Kapten Markadi dan Pertempuran Amfibi Pertama Pascaproklamasi di Selat Bali

BACA JUGA

Jakarta, IDM Nama Kapten (Laut) Markadi Pudji Rahardjo, mungkin tak sepopuler Komodor Yos Sudarso, Laksamana RE Martadinata bahkan Mayor John Lie di kalangan awam terkait para pahlawan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang saat ini menjadi TNI AL.

Dikutip dari jurnal “Pertempuran di Selat Bali pada Masa Revolusi Fisik 1945-1950” yang ditulis Ida Bagus Astika Pidada, Universitas Warmadewa, 2020, dijelaskan Pasukan-M ALRI adalah bantuan yang sangat berarti dan bahkan jadi tulang punggung perlawanan Overste (Letnan Kolonel) I Gusti Ngurah Rai terhadap Belanda di Bali.

Latar belakang singkat hadirnya Pasukan-M di Bali, adalah atas inisiatif Markas Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) yang sekarang jadi menjadi TNI, terkait permintaan bantuan Ngurah Rai dalam menghadapi pendaratan besar-besaran sekutu dan Belanda di Bali, pada awal Maret 1936.

Di sinilah peran besar Kapten Markadi yang mengomandani Pasukan-M. Menindaklanjuti perintah Jenderal Oerip Soemohardjo, Kapten Markadi menyiapkan kematangan empat satuan Pasukan-M yang terdiri dari tiga seksi tempur, dan satu seksi intelijen.

Setelah merasa siap untuk melakoni operasi gabungan amfibi pertama pasukan Indonesia, pada awal April 1946, mereka pun berangkat untuk berusaha menyeberang dari Banyuwangi sekaligus menerobos blokade kapal-kapal patroli Belanda.

Di sini juga terletak besarnya arti slogan TNI saat ini, “Baik-baik dengan rakyat…bersama rakyat, TNI kuat”. Pasalnya, berkat sumbangan beberapa perahu nelayan setempat, mereka bisa menyeberang Selat Bali.

Namun, perjalanan mereka bukan tanpa hambatan. Sebagaimana dikutip buku “Pasukan-M, Menang Tak Dibilang, Gugur Tak Dikenang”, ditulis Iwan Santosa dan Wenri Wanhar, 2012, rombongan penyeberangan Kapten Markadi dihadang dua kapal patroli Belanda berjenis Landing Craft Mechanized (LCM)

Pun begitu alam tengah berpihak pada Kapten Markadi. Saat itu tengah turun hujan dan membuat keadaan laut bergelombang. Ketika posisi perahu mereka sedikit terangkat gelombang dan LCM Belanda di bawah, Kapten Markadi memerintahkan anak-anak buahnya serentak melemparkan granat.

Hancurlah LCM Belanda itu, kendati dua nyawa sipil yang ikut rombongan Kapten Markadi hilang pada insiden tersebut. Pun begitu, akhirnya Kapten Markadi mampu mendarat di Pantai Jembrana, Bali.

Insiden bentrokan memang hanya terjadi sekitar 15 menit. Tapi kejadian itu tercatat dalam sejarah TNI AL saat ini, sebagai pertempuran pertama yang dimenangkan ALRI sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Mendaratnya Kapten Markadi juga jadi operasi amfibi gabungan tentara laut dan darat pertama.

Pendaratan mereka juga sangat disambut hangat warga lokal hingga akhirnya menggabungkan diri dalam Kesatuan ‘Ciung Wanara’ pimpinan Ngurah Rai, bergerilya ke pedalaman sekaligus para prajurit Pasukan-M mulai mendapati sebutan ALRI ‘gunung’.

Kapten Markadi juga menyambung persahabatan yang dekat dengan Ngurah Rai, sampai akhir hayat sang Panglima Tertinggi Teritorium Sunda Kecil (sekarang Bali), pada ‘Puputan Margarana’, pada 20 November 1946. Ia sanggup melanjutkan perlawanan di Bali, hingga Belanda angkat kaki pada Desember 1949 yang hampir berbarengan di berbagai wilayah Indonesia.

Markadi yang lahir pada 9 April 1927, sayangnya terjaring Restrukturisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI pada 1948, untuk kemudian harus beralih ke Angkatan Darat. Markadi wafat pada 21 Januari 2008 dengan pangkat terakhir Kolonel Infanteri di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. (at)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER