75 Tahun Peristiwa Lengkong

96
/Dok. Wikipedia

Peristiwa Lengkong 1946. Aksi perlucutan senjata pada 25 Januari 1946—161 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan—itu menjadi hari yang nahas bagi bangsa Indonesia. Momen yang semestinya berjalan tenang berubah jadi insiden berdarah sebab muntahan peluru dari senjata ‘tak bertuan’.

Hari itu, Jumat sore, Mayor Elias Daniel Mogot atau yang akrab disapa Daan Mogot dari Resimen VI, bersama taruna muda Akademi Militer Indonesia yang baru saja dibentuk, mendatangi garnisun tentara Jepang di Hutan Lengkong, Tangerang (sekarang kawasan Bumi Serpong Damai, BSD). Mereka hendak membahas perlucutan senjata tentara Jepang yang dinyatakan kalah perang oleh Sekutu. 

Negosiasi berlangsung tanpa kendala berarti. Proses pengambilalihan ‘alat perang’ diawali pemindahan sejumlah tawanan perang. Mereka adalah tentara Inggris berdarah Nepal atau berasal dari Negeri Hindustan, tergabung dalam pasukan yang disebut Gurkha. 

Di tengah proses pengambilan senjata itulah terdengar suara tembakan. Hingga hari ini, pelakunya jadi misteri. Kesaksian dan catatan sejarah, tak satu pun memberikan kebenaran pasti. Satu sumber menyebut seorang taruna tak sengaja meletuskan tembakan. Sumber lain mengklaim, tentara Gurkha yang kelepasan. 

Merasa dijebak dan diserang dalam jarak dekat, tanpa aba-aba tentara Jepang merebut kembali senjata sitaan. Baku tembak pun pecah. Kekuatan tidak imbang menyebabkan korban jiwa lebih besar di pihak Indonesia. Tiga perwira dan 33 taruna yang bertugas hari itu gugur di tempat kejadian. Kabarnya, ada seorang lainnya yang nyawanya tak dapat diselamatkan meski telah menjalani perawatan di rumah sakit. 

Tiga perwira gugur itu adalah pemuda Daan Mogot yang mengembuskan napas terakhir pada usia 17 tahun, Letnan Satu Soetopo, dan Letnan Satu Soebianto Djojohadikoesoemo yang berumur 23 tahun. 

Kini, nama mereka abadi di dua lokasi berbeda. Yakni pada prasasti di Taman Makam Pahlawan di Jalan Daan Mogot dan monumen Lengkong di Serpong, BSD, Tangerang Selatan.

Mencetak Prajurit Terbaik

Akademi Militer Tangerang memang tidak berumur panjang. Namun, eksistensinya meski sebentar—bersama sejumlah sekolah militer serupa yang didirikan di beberapa kota di Indonesia—andil mendasari kelahiran Akademi Militer (Akmil) yang mencetak prajurit-prajurit terbaik bangsa ini. 

Keberadaan akademi militer ini tak bisa dilepaskan dari sejarah singkat yang terbentuk di Hutan Lengkong, 25 Januari 1946, di mana 36 anak bangsa gugur dalam tugasnya mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru 161 hari merdeka. Termasuk dua nama yang diabadikan sebagai nama jalan, Daan Mogot (Jakarta Barat, DKI Jakarta) dan Soebianto Djojohadikusumo (BSD, Serpong, Tangerang Selatan).

Sebab peristiwa inilah, 25 Januari ditetapkan sebagai Hari Bhakti Taruna,

Menyandang nama asli Militaire Academie Tangerang (MAT), institusi ini didirikan tiga bulan pasca-Proklamasi. Yakni pada 18 November 1945. Tujuannya untuk mendukung kebutuhan pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Adalah Daan Mogot dan rekan-rekannya sesama perwira menengah TKR—Kemal Idris, Daan Jachja dan Taswin—yang menggagas pendiriannya. Mereka meyakini dibutuhkan lebih banyak calon perwira TKR dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta menyambut baik inisiatif tersebut. Daan Mogot dipercaya memimpin akademi.

Pada awalnya, pendidikan yang diberikan tidak jauh berbeda dari pendidikan militer ala Jepang. Mereka pun mencetak sekira 200 prajurit muda. Namun, akademi ini tak bertahan lama dan resmi ditutup setelah meluluskan angkatan pertama dan terakhirnya, beberapa bulan pasca-baku tembak dengan Jepang sebab perlucutan senjata di depo senjata Lengkong gagal.

Senasib, Militaire Academie (MA) Yogyakarta yang didirikan pada 31 Oktober 1945 juga bertahan hanya lima tahun. MA Yogyakarta gulung tikar karena alasan teknis setelah dua angkatan dinyatakan lulus. Angkatan berikutnya yang tersisa menyelesaikan pendidikan di tempat berbeda, KMA (Koninklijke Militaire Academie) di Breda, Belanda.

Penutupan ini menginsiasi pembentukan Sekolah Perwira Darurat di Malang, Mojoangung, Salatiga, Palembang, Bukittinggi, Brastagi, dan Parapat untuk memenuhi kebutuhan militer pada waktu itu. Di Bandung pada saat bersamaan berdiri Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) dan Pusat Perwira Angkatan Darat.

Banyaknya sekolah perwira AD, muncul gagasan dari pemimpin TNI untuk mendirikan Akademi Militer. Seperti dikutip dari situs resmi Akmil, gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Menteri Pertahanan pada pada sidang parlemen 1952. 

“Setelah melalui proses panjang, pada 11 November 1957 pukul 11.00 WIB Presiden RI Ir Soekarno selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI, meresmikan pembukaan kembali Akademi Militer Nasional yang berkedudukan di Magelang (Jawa Tengah). Akademi Militer ini merupakan kelanjutan dari MA Yogyakarta dan taruna masukan tahun 1957 ini dinyatakan sebagai Taruna AMN angkatan ke-4.”

Empat tahun kemudian, Akademi Militer Nasional Magelang diintegrasikan dengan ATEKAD Bandung dengan nama Akademi Militer Nasional dan berkedudukan di Magelang. Dan, setelah melalui berbagai perubahan dan peleburan institusi, baru pada tanggal 14 Juni 1984 namanya resmi menjadi Akmil (Akademi Militer).