Mengenal KF51 Panther, Tank Generasi Baru Jerman Berkemampuan Canggih

BACA JUGA

Jakarta, IDM Dari ajang pameran pertahanan Eurosatory yang berlangsung pda Juni lalu, kabar baik datang dari ranah tank tempur utama, pasalnya untuk pertama kali Rheinmetall memperlihatkan prototype tank generasi baru yang disebut sebagai KF51 Phanter. Meski disebut sebagai generasi baru, akan tetapi nuansa leopard kental terasa pada desain Phanter.

Dilansir dari laman resmi Rheinmentall, Sabtu (6/8), pada tank generasi baru ini, Rheinmetall mengedepankan otomatisasi tinggi pada Phanter, hal itu ditandai dengan penggunaan automated ammunition handling system untuk memuat amunusi secara otomatis. Konsep ini berlawanan dengan desain Barat konvensional yang masih memakai seorang loader manusia untuk memuat amunisi. Dengan begitu, Phanter nanti hanya diawaki tiga orang kru, yaitu pengemudi, penembak (gunner), dan komandan.

Soal perlindungan, Panther bisa dibilang lengkap. Tank dilengkapi sensor on dan off-platform yang digabungkan dengan perlindungan aktif, reaktif dan pasif. Untuk melindungi sergapan senjata anti-tank yang biasanya mengincar posisi atap turret (kubah) tank, Phanter dibekali sistem perlindungan Top Attack Protection System (TAPS)

Pada sisi persenjataan utama, tank ini akan punya daya gempur yang mematikan dilengkapi meriam smoothbore Future Gun Systems (FGS) kaliber 130 mm dan didukung kemampuan memuat amunisi otomatis (autoloader) dengan 20 amunisi siap ditembakkan. Dibandingkan dengan meriam 120 mm, FGS meningkatkan 50 persen efektivitas jangkauan tembak dari Phanter.

Untuk senjata sekunder mengusung senapan mesin 12,7 mm yang dipasang secara coaxial, artinya senjata akan mengikuti pergerakan laras meriam. Untuk menghadapai serangan drone, Rheinmetall juga memasang remotely controlled weapon stations (RCWS) yang disebut natter menggunakan senjata kaliber 7,62 mm sebagai opsi senjata tambahan.

Phanter juga dapat meluncurkan drone kamikaze (loitering munition) HERO 120 mm buatan Uvision, Israel. Integrasi loitering munition ini membuat Phanter bisa menyerang musuh di luar garis pandang langsung (line of sight). Semua senjata itu terhubung dengan optik milik komandan dan gunner serta fire control computer yang secara keseluruhan terintegrasi dengan sistem digital NATO Generic Vehicle Architecture (NGVA).

Untuk melihat kondisi di luar, komandan dan gunner dilengkapi perangkat panoramic SEOSS optical sensor and EMES main combat aiming device, untuk mengamati situasi siang dan malam yang sudah terintegrasi dengan IR optik dan laser. Sensor juga memberikan pandangan 360 derajat sepanjang waktu di sekitar operasi pertempuran. Didukung sistem pengintaian udara tak berawak yang terintegrasi, hal tersebut akan meningkatkan kesadaran situasional kru selama menjalankan misi.

Meski dikembangkan dari Leopard 2, Phanter memiliki bobot lebih ringan, yakni 59 ton. Sementara untuk jangkauan operasional sekitar 500 km. Sejauh ini, Rheinmetall belum merilis spesifikasi mesin dan dimensi dari tank. (at)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER