Rabu, 28 Februari 2024

FBI Tangkap Terduga Pembocor Dokumen Rahasia Perang

BACA JUGA

Jakarta, IDM – Biro Investigasi Federal AS (FBI) menangkap terduga pelaku pembocoran dokumen perang rahasia Amerika Serikat (AS) secara daring di beberapa platform media sosial. Tersangka itu bernama Jack Douglas Teixeira (21), seorang anggota Garda Nasional Udara AS.

Dilansir dari Al Jazeera, Jumat (14/4), Sejumlah agen FBI dengan menggunakan mobil lapis baja dan perlengkapan militer menyerbu rumah Teixeira di wilayah Dighton, Massachusetts pada Kamis (13/4). Penangkapan itu berlangsung seminggu setelah kebocoran dokumen pertama kali diketahui secara luas, yang menyebabkan Pentagon segera melakukan penyelidikan terkait pelaku maupun dampak kerugian yang mungkin ditimbulkan.

Baca Juga: Tembakan Rudal Korut ke Laut Jepang Picu Peringatan Evakuasi

“Agen FBI menahan Teixeira sore ini tanpa insiden. Teixeira ditangkap sehubungan dengan penyelidikan atas dugaan penghapusan, penyimpanan, dan pengiriman informasi rahasia pertahanan nasional yang tidak sah,” ujar Jaksa Agung Merrick Garland.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa proses hukun akan dilakukan di pengadilan federal. Teixeira merupakan penerbang tamtama di Garda Nasional Udara AS yang bergabung sejak September 2019. Sebelum ditangkap, ia ditugaskan sebagai “pekerja harian sistem transportasi siber” di lingkungan Angkatan Udara AS. Peran tersebut berupa memelihara infrastruktur jaringan komunikasi global.

“Tugasnya antara lain memperbaiki hub jaringan di pangkalan AS atau memasang kabel serat optik di instalasi luar negeri. Para ahli ini menjaga dan menjalankan sistem komunikasi kami dan memainkan peran integral dalam kesuksesan kami yang berkelanjutan,” ujar Angkatan Udara AS.

Baca Juga: Cina Peringatkan AS dan Filipina yang Gelar Latihan Bersama Dekat Wilayah Sengketa

Selain itu, ia juga diidentifikasi sebagai pemimpin sebuah kelompok di platform Discord, tempat dokumen rahasa pertama kali bocor. Dia seringkali memposting transkrip intelijen hingga foto terkait dokumen yang dilabeli “top secret.”

Sementara, Pentagon disebut sudah membatasi akses terhadap jaringan komunikasi maupun dokumen setelah insiden tersebut. Penyelidikan pun masih dilakukan terhadap kemungkinan skala kerugian yang akan menjadi bagian dari bukti dan akan digunakan selama proses sidang penuntutan. (bp)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER