Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal kuat untuk menyambung kembali komunikasi dengan pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut), Kim Jong Un. Kabar ini mencuat setelah Trump menggelar pertemuan mendadak dengan Perdana Menteri Korea Selatan (Korsel), Kim Min-seok di Gedung Putih, Kamis (13/3) waktu setempat.
Suasana sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendadak tegang. Amerika Serikat (AS) melontarkan kritik pedas kepada Rusia dan Cina. Washington menuduh kedua negara tersebut sengaja pasang badan untuk melindungi Iran dari sanksi internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyerukan persatuan nasional dan mengatakan bahwa Selat Hormuz akan terus ditutup untuk menekan musuh. Ia juga memberi peringatan tegas, yang ditujukan kepada Amerika Serikat (AS) serta Israel.
Iran telah menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ia menggantikan posisi ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Teheran pada akhir bulan lalu.
Amerika Serikat dibayangi penyusutan stok senjata dan ketidakpastian pergantian rezim Iran setelah Negeri Paman Sam memutuskan menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Peringatan itu setidaknya yang disampaikan intelijen dan senator AS.
Pesiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menutup pintu damai rapat-rapat bagi Iran. Di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menegaskan tidak punya niat sedikit pun untuk bernegosiasi dengan Teheran dan ingin menghabisi militer serta pemimpin negara itu sampai akar-akarnya.
Amerika Serikat (AS) benar-benar tancap gas mempertebal kekuatan militer di Timur Tengah. Pentagon kini mulai mengerahkan kapal induk ketiganya, USS George H.W. Bush, untuk memperkuat gempuran terhadap Iran seiring perang yang hampir memasuki pekan kedua.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Dewan Sementara Iran telah memutuskan untuk berhenti meluncurkan serangan rudal ke negara-negara tetangga kecuali serangan tersebut berasal dari wilayah mereka.
Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bahwa selaku mediator, pihaknya telah berhasil mewujudkan pertukaran tawanan perang antara Rusia dan Ukraina dengan total sebanyak 5.355 orang.