Akumulasi tiga bulan hidup di dalam hutan dengan sistem bongkar pasang kamera trap membawa tim gabungan peneliti Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan TNI AD berhasil menorehkan tinta emas dalam upaya konservasi macan tutul di Jawa Barat.
elain dikenal ketangguhan tempurnya, prajurit elite TNI AD yaitu Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) juga mempunyai fondasi moral dan aturan ketat yang wajib dipegang teguh oleh setiap prajurit.
Berjarak kurang lebih 50 kilo Gunung Sanggabuana terletak di perbatasan Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Gunung ini memiliki ketinggian 1.291 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun secara angka tidak setinggi gunung-gunung besar lain di Jawa Barat seperti Gunung Gede atau Ciremai, Sanggabuana dikenal memiliki medan yang sangat menantang. Dengan karakteristik puluhan puncak yang membentang sepanjang 27 kilometer, gunung ini dikepung oleh jalur tanjakan yang curam dan vegetasi rapat khas hutan tropis. Karakteristik ekstrem inilah yang menjadi faktor utama mengapa wilayah ini dipilih sebagai daerah latihan komando taktis Resimen Pusat Latihan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad, sekaligus menjadi benteng pertahanan alami bagi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas).
Dua tokoh penting yang kini menjadi 'tangan kanan' Presiden Prabowo Subianto, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, kembali ke almamater mereka di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah.
Bagi Sersan Kepala (Serka) Aryanto yang sudah 12 tahun mengabdi di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta musuh terbesarnya bukanlah ancaman kedaulatan atau konflik bersenjata tetapi sampah yang mengotori laut.
Tak hanya peninggalan Sekutu yang menjadi saksi pertempuran berdarah di Sungai Cianten, Leuwiliang. Ternyata, ada juga tugu memorial serdadu Jepang yang didirikan untuk memperingati peristiwa bersejarah ini. Tugu ini berdiri di kawasan bantaran Sungai Cianten, tepat berada di bawah kaki Bukit Pasir Angin.
Keberhasilan pasukan sekutu ABDACOM yang disebut Black Force pimpinan Brigadir Blackburn di Leuwiliang—yang diklaim menewaskan banyak tentara Jepang—tidak lepas dari keberadaan Bukit Pasir Angin. Berada di ketinggian 210 mdpl, bukit yang terletak di seberang timur Jembatan Cianten ini menjadi lokasi sangat strategis bagi pasukan Sekutu untuk membombardir pergerakan Jepang.
Gemuruh riuh lalu lintas di Jembatan Cianten, Kabupaten Bogor Barat, Jawa Barat, seolah menyamarkan sebuah fragmen sejarah besar yang pernah bergejolak di bawah alirannya. Di balik tenangnya riak sungai dan hijaunya lanskap Situs Pasir Angin, kawasan ini merupakan saksi bisu palagan sengit Perang Dunia II yang mempertemukan ambisi ekspansi tentara Jepang dengan ketahanan baris belakang pasukan Sekutu.
Kisah ini datang dari Yujin Butiop, seorang anggota kelompok bersenjata TPNPB-OPM Papua Selatan pimpinan Marius Murib yang menyerahkan diri dan kembali ke NKRI.
Seorang Perwira TNI Angkatan Darat dari Korps Hukum memborong prestasi dan gelar langka di kancah internasional. Dia Adalah Kolonel Chk Arief Fahmi Lubis yang berhasil menyelesaikan pendidikan National Security & War Course di National Defence University (NDU) Islamabad, Pakistan, yang setara dengan pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), sekaligus meraih gelar Master of Defence Studies (MSDS).
0 mnt
Ricardo Ronald — Profil Penulis | Indonesia Defense Magz