Kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik bersenjata sekaligus mengakhiri blokade militer di Selat Hormuz dinilai menjadi momentum penting bagi terciptanya stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat AS (US CENTCOM) mengungkapkan bahwa pihaknya telah menembak jatuh beberapa drone Iran, yang berupaya menyerang kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz.
Ketika dunia membahas konflik Timur Tengah, perhatian publik sering kali tertuju pada aspek militer dan politik. Namun di balik setiap eskalasi di kawasan tersebut, terdapat satu faktor yang memiliki dampak langsung terhadap ekonomi global: Selat Hormuz.
Sebuah helikopter tempur jenis Apache milik militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan jatuh di kawasan Selat Hormuz. Beruntung, dua awak udara yang mengoperasikan helikopter penyerang tersebut berhasil diselamatkan setelah sempat terombang-ambing di dekat jalur perairan konflik yang dikendalikan ketat oleh Iran.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan, kapal induk ITS Giussepe Garibaldi dalam dalam proses pengiriman ke Indonesia.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Abolfazl Shekarchi memperingatkan bahwa setiap serangan AS dan Israel terhadap Iran akan disambut dengan pembalasan yang lebih kuat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa mereka tidak mencari konsesi dari Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan, Teheran ingin hak-haknya dipulihkan dan sanksi dicabut.
Iran telah membentuk badan baru yang bertugas mengelola Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan blokade jalur strategis tersebut.