Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) terus mengembangkan senjata nuklir dan memproduksi bahan fisil sepanjang tahun 2023. Pemerintahan Kim Jong Un juga menghindari sanksi dari PBB yang bertujuan untuk menghentikan pendanaan untuk program nuklir tersebut.
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un telah memerintahkan industri militernya untuk menambah stok persenjataan dan memperkuat kesiapan perang, di tengah ketegangan yang kian sengit dengan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel).
Pengamat keamanan Korea Selatan (Korsel) menilai bahwa parade militer Korea Utara (Korut) yang menampilkan rudal balistik antarbenua serta senjata lainnya difokuskan untuk pamer kekuatan dan menegaskan kapabilitasnya mengembangkan senjata strategis. Dalam parade itu pula, perwakilan Cina dan Rusia turut bergabung dengan Presiden Korut Kim Jong Un.
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menerima kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di Pyongyang pada beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, Kim memamerkan berbagai alat utama sistem persenjataan seperti rudal balistik jarak jauh tercanggih Korut.
Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel), dan Jepang mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam peluncuran rudal balistik antarbenua Korea Utara (Korut). Peluncuran rudal itu disebut sebagai "ancaman mematikan" bagi perdamaian dan stabilitas keamanan di Semenanjung Korea.
Amerika Serikat (AS) mengaku khawatir Korea Utara (Korut) akan memasok senjata tambahan untuk Rusia. Kekhawatiran itu muncul setelah Presiden Kim Jong Un berjanji untuk meningkatkan kerja sama strategis dengan Presiden Vladimir Putin.
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un mengungkapkan sebuah pesan khusus untuk Presiden Rusia Vladimir Putin dalam rangka memperingati Hari Nasional Rusia pada Senin (12/6). Dalam pesan tersebut, Kim berjanji untuk terus “bergandengan tangan” serta bekerja sama untuk membangun negara yang kuat dan mempertahankan keamanan global.
Korea Selatan (Korsel) menggelar latihan pertahanan di dekat perbatasan Korut untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan dari peluncuran satelit pengintai militer.
Korea Utara (Korut) mengakui bahwa pihaknya telah gagal meluncurkan satelit pengintai militer pada Rabu (31/5). Satelit itu disebut jatuh ke laut hanya beberapa saat setelah mengudara.
Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk Yeol menyerukan kerja sama internasional untuk menekan program pengembangan rudal nuklir Korea Utara (Korut). Kerja sama tersebut dapat berupa sanksi ekonomi yang diperbanyak agar menghambat pembiayaan Korut untuk mencapai ambisi nuklirnya.