Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nampak mengalami kebuntuan karena mereka bersikukuh dengan tuntutan masing-masing khususnya yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Menurut analis politik yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, akhir kebuntuan ini bergantung pada pihak mana yang memiliki 'daya tahan paling kuat'.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Washington melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Marco Rubio memeringatkan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan mengendalikan Selat Hormuz dan merusak kebebasan navigasi.
Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan ke Iran selama sebelas malam berturut-turut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, konflik dengan Iran telah menelan biaya sekitar $37,5 miliar atau Rp671 triliun.
Meningkatnya eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Selat Hormuz kembali mengangkat kekhawatiran dunia terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah.
Pakistan berupaya terus mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan konflik dan kembali ke jalur diplomatik berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada bulan lalu.
Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara terhadap Iran meskipun Presiden Donald Trump telah berjanji untuk deeskalasi selama tujuh hari prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu, Ali Khamenei.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel, akan dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada 9 Juli mendatang. Namun, prosesi penghormatan akan dimulai besok.