Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan memutus semua jalur ekspor energi dari Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) kembali memblokade kapal-kapal komersial yang melintas ke atau dari Iran.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa serangan balasan ke Iran akan terus berlanjut. Ia memperingatkan, AS akan menyerang pembangkit listrik hingga jembatan jika Teheran tidak segera kembali ke meja perundingan.
Amerika Serikat (AS) kembali memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran. Hal ini dilakukan menyusul serangan Iran terhadap beberapa kapal komersial di Selat Hormuz.
Konflik yang kembali berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyebabkan terancamnya jalur maritim di Selat Hormuz. Selama 24 jam terakhir, lalu lintas kapal komersial melambat hingga hampir berhenti total di koridor tersebut.
Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan memenuhi kewajibannya berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) selama Amerika Serikat (AS) terus melakukan pelanggaran.
Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap Iran, yang menargetkan puluhan situs militer di beberapa titik pada Minggu (13/7). Hal itu disebut sebagai upaya untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang dan saling menyalahkan, yang semakin memperburuk ketegangan antara keduanya sekaligus keamanan di kawasan.
Angkatan Darat Iran mengatakan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah merupakan "target sah" untuk diserang jika Washington terus melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan komprehensif tidak akan dimulai jika ancaman dari Amerika Serikat (AS) terus berlanjut.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia dan Amerika Serikat (AS) merupakan dua kekuatan nuklir terbesar yang memiliki tanggung jawab bersama untuk keamanan global.