Memboyong alutsista canggih kelas dunia belum menjamin ketangguhan pertahanan bawah air Indonesia. Langkah pemerintah membeli kapal selam Scorpène buatan Prancis hingga menggarap Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT) di PT PAL bakal sia-sia jika tidak dibarengi ekosistem industri yang kuat.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (KERIS) Abdul Majid menilai, tawaran pembangunan fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul) pesawat angkut militer C-130 Hercules yang diproyeksikan berada di Bandara Kertajati merupakan langkah positif, khususnya dalam memperkuat ekosistem pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Tanah Air.
Pada titik ini, modernisasi Indonesia cenderung lebih tepat dipahami sebagai proses akuisisi kekuatan ketimbang pembangunan kemandirian. Negara memang terlihat semakin modern dalam aspek platform militer yang dimiliki, tetapi pada saat yang sama masih berada dalam struktur ketergantungan teknologi yang dalam dan sistemik terhadap pihak luar. Inilah paradoks utama yang membingkai perkembangan pertahanan Indonesia hari ini yaitu semakin besar belanja modernisasi, semakin jelas pula batas kemandirian yang belum tercapai.
Di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) melalui pinjaman luar negeri dinilai harus berlandaskan prinsip value for money. Artinya, setiap rupiah yang dibelanjakan harus menghasilkan kemampuan pertahanan yang optimal dan sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Sejumlah warga berfoto dengan kendaraan tempur saat pameran alutsista dalam HUT ke-65 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Monas, Jakarta, Minggu (5/7).
Kapal selam merupakan salah satu instrumen strategis paling penting dalam pertahanan maritim modern. Namun, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pembangunan kapal selam tidak hanya berbicara mengenai penambahan alutsista, melainkan juga tentang penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan kemandirian industri pertahanan nasional.
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menegaskan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam upaya pembangunan kekuatan TNI Angkatan Udara (TNI AU) secara menyeluruh.