Jumat, 4 April 2025

“Bila China Kalah Perang, Entropi Mengancam”

Seluruh barisan chauvinist akan runtuh seiring waktu karena terlalu banyak menelan asumsi yang tidak realistis. Begitu pula nasib kebijakan-kebijakan yang bersifat ideologis tapi ternyata kontradiktif.

Winston Churchill tahu, setelah Nazi Jerman menyatakan perang (terhadap Amerika Serikat) pada December 1941, Sekutu membuktikan bahwa mereka jauh lebih kuat dan menang.

Nazi Jerman tidak punya uang (PDB) ataupun tenaga (sumber daya manusia) untuk menyokong perang di dua front. Namun, mereka tak peduli karena telanjur irasional dan diselimuti kebencian.

Jerman hanya punya waktu beberapa bulan untuk menciptakan Lebensraum dan merealisasikan desakan membangun kembali dominasi Jerman-Austria di Eropa Timur sebelum menginvasi Uni Soviet secara besar-besaran. 

Nazi secara sepihak menyatakan perang terhadap AS.

Alasan di balik deklarasi sepihak ini adalah ideologi—pandangan umum yang menegaskan pentingnya ekspansi dan konflik—meski Jerman lemah secara strategi dan akhirnya kalah (perang).  

Berbekal keyakinan bahwa mereka bisa menjadi hegemoni otoriter global di masa mendatang, China agaknya bakal menemui ‘garis perjalanan’ yang sama.

Hari ini China tergerak karena dorongan ideologi ekspansionisnya, memancing keributan tanpa memikirkan kemampuannya. 

Jadi, perlu dicatat bahwa tak ada satu negara besar pun yang menjadi sekutu China saat ini.

Propaganda supremasi China berjalan sesuai rencana dalam kondisi damai. Ada demonstrasi besar-besaran. Semua memuji Mao Zedong sebagai sosok jenius di militer. Beberapa orang di antaranya menyanyi, menari, dan melambaikan spanduk merah. Pertanyaannya, apakah pengaruh itu akan tetap ada bila PLA kalah?

Seandainya kampanye militer itu gagal, apakah China dengan kebijakan satu-anak-saja siap menjadi korban, baik untuk kegagalan dan menanggung malu yang panjang?

Akankah cengkeraman autoritarian—pemilik teknologi pemindai wajah, informan, pengawasan digital, dan pasukan yang selama ‘masa damai’ lebih banyak bertugas sebagai pengawas kerumunan massa—bisa bertahan dari kekalahan buruk ini?

Jika rezim kehilangan kekuasaannya, amuk massa bisa terjadi bergelombang-gelombang, mengingat mereka telah mengalami represi menahun, melampaui hitungan beberapa dasawarsa. 

Sebuah negara sebesar China—dengan sejarah perpecahan dan perang saudara, masyarakat yang beragam, dan kesenjangan sosial dan ekonomi—bukan mustahil mengalami ‘Balkanisasi’ setelah menelan kekalahan. 

Di masa lalu, China pernah mengalami perpecahan internal jangka panjang dan pemerintahan pusatnya lemah.  

Sikap Amerika Serikat saat menghadapi kekalahan, berbeda. Negara ini jauh lebih resilien dari apa yang diberitakan setiap harinya. 

Jika mereka kalah perang, presiden lah yang akan disalahkan. Namun, perpustakaan dengan nama sang presiden tetap ada. Nama itu tidak akan diganti.

Berita Terkait

Berita Terbaru

INFRAME

Pemudik Tiba di Semarang dengan Kapal KRI Banjarmasin-592

Semarang, IDM – Sejumlah pemudik yang menumpang kapal perang KRI Banjarmasin-592 tiba di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, (28/3). Program mudik gratis yang diselenggarakan TNI Angkatan Laut (TNI AL) ini merupakan bentuk pelayanan bagi...

Edisi Terbaru

Subscribe hubungi bagian Sirkulasi
WhatsApp 0811 8868 831
isi form subscribe

Baca juga

Populer