Kamis, 8 Juni 2023

Dakota RI-001 Seulawah Pesawat Angkut Persembahan Rakyat Aceh untuk Indonesia

BACA JUGA

Jakarta, IDM Pesawat Dakota RI-001 Seulawah dikenal sebagai pesawat angkut pertama yang dimiliki oleh Indonesia sekaligus pelopor penerbangan sipil nasional, Indonesian Airways. Pesawat ini memiliki sejarah yang unik lantaran dibeli dari hasil sumbangan dana rakyat Aceh pada tahun 1948.

Kisah pengadaan pesawat ini bermula pada masa awal kemerdekaan, di mana saat itu TNI Angkatan Udara (TNI AU) berencana untuk membeli pesawat angkut. Bak gayung bersambut, rencana pembeliaan pesawat pun kemudian disetujui oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Dikutip dari Kompas, saat itu direncanakan akan ada 25 pesawat model Dakota. Namun, Indonesia tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk membeli pesawat angkut yang telah direncanakan. Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah akhirnya melakukan pencarian dana sumbangan dengan mengunjungi Pulau Sumatera.

Pada 16 Juni 1948, Soekarno melakukan lawatan ke Aceh. Ia menggunakan kesempatan tersebut untuk berorasi dan membangkitkan jiwa nasionalisme rakyat Aceh. Di hadapan mereka, Soekarno meminta agar rakyat Aceh dapat memberikan sumbangan dana yang nantinya akan digunakan untuk membeli pesawat angkut pertama di Indonesia.

Baca Juga: Nurtanio, Perintis Industri Pesawat Indonesia

“…Sebab itu saya anjurkan, sebelum kita memperkuat dan memperbaiki jalanan mobil dan kereta api atau pun perhubungan di laut, kita usahakan membuat lalu lintas udara. Di sini saya anjurkan, supaya kaum saudagar akan membeli kapal udara, sebaiknya Dakota dan saya tidak berkeberatan, tuan-tuan akan memberikan namanya sendiri untuk pesawat terbang itu…“ demikian kutipan pidato Presiden Soekarno di Hotel Aceh Kutaraja yang dilansir dari instagram TNI AU @militer.udara.

Pesawat Dakota
Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dan pelopor pesawat komersial Indonesia, Indonesian Airways. (Foto: Dok. Kompas)

Merespons pidato Soekarno, maka terbentuklah Panitia Dana Dakota yang diketuai oleh Djuned Yusuf dan Muhammad Alhabsji. Melansir keterangan Sejarah TNI Angkatan Udara Jilid I (1945-1949), Rakyat Aceh berhasil mengumpulkan dana sebanyak 130.000 straits dollar pada saat itu.

Usai dana terkumpul, AURI kemudian menunjuk Opsir Muda Udara II Wiweko Soepono sebagai ketua misi pembelian pesawat. Penunjukkan Wiweko sebagai ketua tidak terlepas dari keahliannya dalam bidang teknik pesawat dan jabatannya saat itu sebagai Kepala Biro Rencana dan Konstruksi. Pemerintah Indonesia akhirnya dapat membeli satu unit Pesawat Douglas C-47 yang diberi nama RI-001 “Seulawah” dengan arti “Gunung Emas”.

Baca Juga: Mengenang Sejarah Bangsa Melalui Monumen Perjuangan Mempertahankan NKRI

Kedatangan di Indonesia

TNI AU dalam laman resminya menjelaskan, pesawat Dakota RI-001 Seulawah tiba di Indonesia pada Oktober 1948. Sebulan setelah kedatangannya, pesawat ini telah membawa Wakil Presiden Moh. Hatta melakukan kunjungan ke Sumatera. Saat bertandang ke Aceh, pesawat ini pun disambut dengan suka cita, bahkan sempat diadakan terbang perkenalan kepada sejumlah pemuka masyarakat Aceh.

Dalam perjalanannya, Dakota RI-001 membutuhkan perawatan berkala (periodical overhaul) dan pemasangan tangki jarak jauh (long-range tank). Untuk itu, pemerintah memutuskan membawa langsung pesawat tersebut menuju Calcuta-India pada 6 Desember 1948. Pesawat diawaki oleh Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot Opsir Udara III Sutardjo Sigit, juru radio Opsir Muda Udara III Adi Sumarmo serta seorang juru mesin Caesselbery.

Cikal Bakal Lahirnya Indonesian Airways

Pada 20 Januari 1949, Dakota RI-001 dinyatakan layak beroperasi usai melakukan perawatan berkala dan pemasangan tangki jarak jauh. Pesawat siap kembali ke tanah air, namun kondisi saat itu tidak memungkinkan lantaran berkecamuknya perang yang disebabkan oleh Agresi Belanda II.

Baca Juga: Hell Week dalam Pembentukan Manusia Katak

Kondisi tersebut membuat Wiweko Soepeno, Sutarjo Sigit, dan Sudaryono sepakat untuk berjuang di luar negeri dengan cara lain. Mereka menyadari jika perjuangan untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan RI membutuhkan dana serta persenjataan yang tidak sedikit. Dengan dasar pemikiran tersebut, ketiganya sepakat untuk mengoperasikan Dakota RI-001 di luar negeri melalui penerbangan komersial.

Birma, yang kini dikenal dengan sebutan Myanmar, dipilih sebagai negara operasional Dakota RI-001 sebagai pesawat komersial. Pada 26 Januari 1949, perusahaan niaga airline dengan nama Indonesian Airways resmi berdiri. Pendirian perusahaan tersebut juga tidak terlepas dari prakarsa Opsir Udara II Wiweko Soepono dan bantuan perwakilan RI di Birma, Marjuni. Saat itu, pilot dan kru Dakota RI-001 terdiri dari J.H. Maupin (pilot), Alan Ladmore dan Caesselbery (juru mesin) dibantu oleh tenaga Indonesia, Opsir Udara III Wiweko Soepono, Opsir Udara II Sutardjo Sigit, serta Opsir Udara Sudarjono.

Dana yang diperoleh selama Dakota RI-001 beroperasi di Birma kemudian digunakan untuk membiayai kadet-kadet udara belajar di India dan Filipina. Selain itu, dana operasi RI-001 juga dimanfaatkan untuk membeli beberapa pesawat Dakota lainnya yang diberi nomor registrasi RI-007 dan men-charter pesawat RI-009. (yas)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER