
Sejak Februari 2022, Rusia Telah Luncurkan 12.000 Rudal ke Ukraina
Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin mengungkapkan bahwa Rusia telah meluncurkan 12.000 rudal ke negaranya, sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022.
Arsip artikel dan kontribusi Bunga Permata di Indonesia Defense.

Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin mengungkapkan bahwa Rusia telah meluncurkan 12.000 rudal ke negaranya, sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022.

Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin menegaskan bahwa Ukraina akan terus berjuang dan mempertahankan kemerdekaannya di tengah agresi skala penuh Rusia yang telah berlangsung selama 1.000 hari.

Presiden Volodymyr Zelensky meluncurkan 'Rencana Ketahanan' atau Resillience Plan untuk Ukraina, yang menandai seribu hari sejak pecahnya perang dengan Rusia.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia mengatakan bahwa pihaknya berhasil menembak jatuh enam rudal balistik ATACMS yang diluncurkan Ukraina ke wilayah Bryansk.

Lebanon dan Hizbullah telah menyetujui rencana gencatan senjata dengan Israel yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS). Hal itu merupakan upaya paling signifikan untuk mengakhiri konflik.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa ia berharap perang dengan Rusia akan berakhir pada tahun 2025 melalui jalur diplomatik.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengizinkan serangan rudal ATACMS ke teritorial Rusia sebagai "babak baru peningkatan ketegangan".

Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menyerukan pasukan militer negaranya untuk siap perang, di tengah meningkatnya ancaman regional yang dipicu oleh Amerika Serikat (AS).

Anggota biro politik Hamas Bassem Naim mengatakan bahwa pihaknya siap untuk gencatan senjata di Gaza dan mendesak presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menekan Israel agar mengakhiri agresi.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah mengizinkan Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh ATACMS, untuk melakukan 'serangan terbatas' ke teritorial Rusia.