
125.000 Orang Terpaksa Mengungsi Akibat Konflik di Yaman
Konflik yang berkecamuk antara Houthi dengan pasukan militer Pemerintah Yaman telah menyebabkan sekitar 125.000 orang terpaksa mengungsi sejak awal September 2026.
Ikuti perkembangan, konteks, dan liputan terkait dalam satu tempat.

Konflik yang berkecamuk antara Houthi dengan pasukan militer Pemerintah Yaman telah menyebabkan sekitar 125.000 orang terpaksa mengungsi sejak awal September 2026.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa operasi militer di Yaman berlangsung sukses. Ia mengklaim telah merebut enam distrik dari pihak lawan, yakni pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sekaligus koalisi pimpinan Arab Saudi.

Wakil Tetap Yaman untuk PBB Abdullah Ali Fadhel al-Saadi, memperingatkan bahwa kelompok Houthi terus melakukan eskalasi militer yang membahayakan keamanan regional dan berupaya memaksakan realitas baru di Laut Merah.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap Arab Saudi dapat mengaktifkan pakta pertahanan trilateral bertajuk 'Mecca Joint Defence Agreement'.

Serangkaian serangan Houthi terhadap Arab Saudi melukai lebih dari 70 orang dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak pada Selasa (8/9).

Serangan kelompok Houthi terhadap kapal kargo MV Tihamah di kawasan Bab el-Mandeb, Yaman, menewaskan seorang Warga Negara Indonesia (WNI).

Houthi kembali meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal ke Kota al-Makha, Yaman, yang menewaskan tujuh orang. Serangan ini dilakukan kurang dari 24 jam setelah bombardir menewaskan sekitar sebelas orang.

Houthi meluncurkan rudal ke markas militer Pemerintah Yaman, yang menewaskan 30 tentara dan melukai 15 lainnya. Serangan ini menandai meningkatnya perang saudara selama beberapa pekan terakhir.

Serangkaian serangan udara Houthi telah melukai 11 warga sipil di wilayah selatan Arab Saudi, yang dekat dengan perbatasan Yaman pada beberapa waktu lalu.

Indonesia mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial yang berlayar di Laut Merah. Hal itu terungkap menyusul serangkaian serangan yang menganggu keamanan jalur perdagangan maritim strategis tersebut.