Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (National Intelligence Service/NIS) mengungkapkan bahwa sekitar 100 tentara Korea Utara tewas dalam pertempuran bersama Rusia melawan Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan kembali bahwa pihaknya bersedia untuk berunding dengan Ukraina. Menurutnya, Rusia telah secara konsisten berupaya menjalin perundingan diplomatik atas konflik tersebut.
Rusia mengatakan bahwa Ukraina telah berulang kali menjatuhkan amunisi fosfor putih terlarang dari drone pada bulan September, tuduhan yang dibantah oleh Ukraina.
Dinas Keamanan Ukraina (Security Service of Ukraine) mengaku bertanggung jawab atas tewasnya Letnan Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia Igor Kirillov dan menyebutnya sebagai "target yang sah".
Otoritas Amerika Serikat (AS) dan Ukraina melaporkan bahwa pasukan Korea Utara (Korut) telah bertempur bersama Rusia. Beberapa diantaranya diyakini telah tewas atau terluka.
Otoritas Ukraina melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan udara skala besar terhadap infrastruktur energi, pelabuhan Laut Hitam Odesa dan kota-kota lain di Ukraina barat.
Amerika Serikat (AS) kembali mengumumkan bantuan senjata tambahan untuk Ukraina senilai $500 juta, sebagai bentuk dukungan sebelum pergantian pemerintahan Joe Biden ke Donald Trump.
Rusia mengatakan bahwa Ukraina telah menyerang landasan udara militer di Laut Azov dengan enam rudal balistik ATACMS buatan Amerika Serikat (AS) dan menegaskan serangan itu tidak akan dibiarkan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak sekutu untuk memasok 10-12 sistem pertahanan udara Patriot tambahan untuk sepenuhnya melindungi wilayah udara negaranya. Hal itu ia ungkapkan usai serangan udara Rusia ke Kota Zaporizhzhia menewaskan empat orang.
Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa pihaknya hampir mencapai tujuan operasi khusus yang dilakukan di Ukraina dengan memimpin 'inisiatif strategis' dalam pertempuran tersebut.
Amerika Serikat (AS) akan mengirim bantuan tambahan ke Ukraina senilai $725 juta, termasuk sistem anti-drone dan amunisi untuk High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS).
Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani anggaran negara yang fokus meningkatkan belanja militer tahun 2025, di tengah upaya untuk menang dalam konflik dengan Ukraina.
Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Jake Sullivan mengatakan bahwa pihaknya tidak berencana untuk mengirim senjata nuklir ke Ukraina di tengah konflik dengan Rusia.