Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un telah memerintahkan industri militernya untuk menambah stok persenjataan dan memperkuat kesiapan perang, di tengah ketegangan yang kian sengit dengan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel).
Perwakilan tetap Korea Utara (Korut) di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menegaskan bahwa program pengembangan senjata taktis nuklir bertujuan sebagai alat pencegah dan pelaksanaan yang sah untuk menjamin keamanan kedaulatan negara tersebut.
Pengamat keamanan Korea Selatan (Korsel) menilai bahwa parade militer Korea Utara (Korut) yang menampilkan rudal balistik antarbenua serta senjata lainnya difokuskan untuk pamer kekuatan dan menegaskan kapabilitasnya mengembangkan senjata strategis. Dalam parade itu pula, perwakilan Cina dan Rusia turut bergabung dengan Presiden Korut Kim Jong Un.
Anggota keluarga Travis King, tentara Amerika Serikat (AS) yang kini ditahan di Korea Utara (Korut) mengaku sangat terpukul atas insiden yang terjadi. Mereka menuntut pemerintah AS untuk segera memulangkan King.
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menerima kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di Pyongyang pada beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, Kim memamerkan berbagai alat utama sistem persenjataan seperti rudal balistik jarak jauh tercanggih Korut.
Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia Sergei Shoigu melakukan pertemuan dengan Menhan Korea Utara (Korut) Kang Sun Nam di Pyongyang pada beberapa waktu lalu. Pertemuan itu merupakan wujud Rusia dalam memperkuat hubungan kerja sama militer dengan Korut.
Wakil komandan UN Command mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) telah mulai membuka jalur komunikasi untuk membahas kasus tentara Amerika Serikat (AS) yang ditahan akibat melintasi perbatasan tanpa izin. Langkah itu diharapkan dapat menjadi permulaan yang baik agar tentara itu dapat kembali pulang dengan selamat.
Kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat (AS) kembali berkunjung ke pelabuhan Korea Selatan (Korsel) pada beberapa waktu lalu. Kunjungan itu merupakan wujud kedua negara memperkuat kerja sama sekaligus menciptakan efek deterrence terhadap Korea Utara (Korut).
Korea Utara (Korut) kembali menembakkan beberapa rudal jelajah ke Laut Kuning. Peluncuran tersebut menjadi langkah konfrontatif lainnya usai kapal selam rudal balistik Amerika Serikat (AS) tiba di pelabuhan Korea Selatan (Korsel) minggu lalu.
Korea Utara (Korut) belum menanggapi permintaan Amerika Serikat (AS) untuk berdiskusi terkait tentara yang ditahan akibat melanggar perbatasan di Zona Demiliterisasi Korea. Beberapa pengamat memperkirakan upaya memulangkan tentara AS itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.