Korea Utara (Korut) menggelar latihan simulasi “serangan nuklir taktis" yang melibatkan dua rudal penjelajah jarak jauh pada beberapa waktu lalu. Latihan itu disebut untuk "memperingatkan musuh" akan kesiapan perang nuklir Korut.
Korea Utara (Korut) meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke Laut Timur pada beberapa waktu lalu. Langkah itu dilakukan setelah AS mengerahkan pesawat pengebom B-1B untuk latihan udara gabungan bersama Korea Selatan (Korsel).
Sebuah pesawat pengebom strategis B-1B milik Amerika Serikat (AS) berpartisipasi dalam latihan udara gabungan yang tengah berlangsung dengan Korea Selatan (Korsel). Keterlibatan pesawat pengebom AS itu diumumkan setelah Korea Utara (Korut) gagal meluncurkan Cholllima-1, satelit militer yang akhirnya jatuh ke laut.
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menyerukan agar Angkatan Laut negaranya terus meningkatkan kekuatan militer. Permintaan itu menyusul tindakan Amerika Serikat (AS) yang menurutnya telah mengubah perairan Semenanjung Korea menjadi “tidak stabil dengan bahaya perang nuklir".
Upaya kedua Korea Utara (Korut) untuk menempatkan satelit pengintai di orbit kembali gagal dilakukan setelah pendorong roket mengalami masalah. Satelit itu disebut jatuh ke laut karena kurangnya daya dorong di tahap ketiga.
Pemerintah Jepang mengatakan bahwa pihaknya telah diberitahukan oleh Korea Utara (Korut) terkait rencana peluncuran satelit militer dalam beberapa hari mendatang. Peluncuran itu akan menjadi yang kedua kalinya dilakukan usai upaya pertama berakhir dengan kegagalan ketika satelit tersebut jatuh ke laut.
Badan Kepolisian Korea Selatan (Korsel) mengatakan bahwa kelompok peretas yang diduga dari Korea Utara (Korut) telah berupaya untuk mengganggu latihan militer gabungan sekutu. Kegiatan siber ilegal itu merupakan yang kesekian kalinya dilakukan oleh jaringan peretas Korut.
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un melakukan inspeksi uji coba rudal jelajah di Pyongyang pada beberapa waktu lalu. Uji coba itu dilakukan sebagai unjuk kekuatan menjelang latihan militer gabungan yang dilakukan oleh Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS).
Korea Utara (Korut) mengklaim bahwa tentara Amerika Serikat (AS) yang ditahan akibat melanggar batas teritorial itu memang sengaja melakukan tindakannya untuk mencari perlindungan dan melarikan diri dari "tindakan rasisme" selama bertugas.
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) terus mengembangkan senjata nuklir dan memproduksi bahan fisil sepanjang tahun 2023. Pemerintahan Kim Jong Un juga menghindari sanksi dari PBB yang bertujuan untuk menghentikan pendanaan untuk program nuklir tersebut.