Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran mengatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat (AS) melanggar Nota Kesepahaman dan memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah atau fasilitas mereka digunakan untuk serangan lanjutan terhadap Teheran.
Militer Iran (Islamic Revolutionary Guards Corps/ IRGC) memperingatkan bahwa mereka akan menargetkan pasukan Amerika Serikat (AS) jika mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz, yang akan memperburuk ketegangan di wilayah tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps /IRGC) mengklaim telah menghancurkan drone MQ-9 Reaper di Kota Isfahan pada beberapa waktu lalu.
Proses pemilihan suksesor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan ditunda.
Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah Iran mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, akibat serangan udara yang dituding dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Iran menegaskan negaranya berhak membela diri usai diserang Amerika (AS) dan Israel. Serangan itu disebut menargetkan lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Tehran serta beberapa kota lainnya, yang melanggar integritas teritorial Iran.
Iran mengatakan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas daratan, perairan, dan wilayah udara Selat Hormuz di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.
Pemerintah Iran melaporkan bahwa 935 orang tewas akibat serangan Israel ke berbagai wilayah Iran dalam konflik selama 12 hari. Korban tewas termasuk 132 wanita dan 38 anak-anak.
Angkatan Bersenjata Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) telah memerintahkan semua anggotanya untuk berhenti menggunakan semua jenis perangkat komunikasi.