Serangan udara Iran telah menyebabkan kerusakan pada 228 titik militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di negara-negara tetangga di Timur Tengah. Jumlah ini lebih banyak daripada yang diakui secara publik oleh para pejabat AS.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa operasi militer AS untuk mengawal kapal-kapal komersil yang terdampar akibat blokade Iran di Selat Hormuz telah dihentikan sementara.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Cina Wang Yi di Beijing pada Rabu (6/5). Pertemuan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) terkait Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan bahwa Iran telah menyerang dengan rentetan rudal dan drone, yang menyebabkan kebakaran kilang minyak dan melukai tiga orang.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa ia tidak akan mengizinkan Iran untuk memiliki senjata nuklir. Hal itu ia ungkapkan di tengah upaya diplomatik yang tak kunjung menghasilkan kesepakatan damai.
Militer Iran (Islamic Revolutionary Guards Corps/ IRGC) memperingatkan bahwa mereka akan menargetkan pasukan Amerika Serikat (AS) jika mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz, yang akan memperburuk ketegangan di wilayah tersebut.
Komando Pusat AS (US CENTCOM) mengatakan bahwa pihaknya akan meluncurkan misi yang mendukung kapal komersil untuk bebas melintasi Selat Hormuz di tengah gencatan senjata dengan Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa blokade maritim Amerika Serikat (AS) atas Iran "pasti akan gagal". Menurutnya, kekuatan asing di wilayah Teluk secara historis menyebabkan ketegangan dibanding perdamaian.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia memilih untuk tetap memberlakukan blokade maritim hingga Iran memenuhi tuntutan AS untuk berhenti mengembangkan nuklir.