
Lebanon dan Hizbullah Setuju Usulan Gencatan Senjata dari AS
Lebanon dan Hizbullah telah menyetujui rencana gencatan senjata dengan Israel yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS). Hal itu merupakan upaya paling signifikan untuk mengakhiri konflik.
Ikuti perkembangan, konteks, dan liputan terkait dalam satu tempat.

Lebanon dan Hizbullah telah menyetujui rencana gencatan senjata dengan Israel yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS). Hal itu merupakan upaya paling signifikan untuk mengakhiri konflik.

Anggota biro politik Hamas Bassem Naim mengatakan bahwa pihaknya siap untuk gencatan senjata di Gaza dan mendesak presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menekan Israel agar mengakhiri agresi.

Hizbullah mengatakan pihaknya belum menerima proposal gencatan senjata apa pun dari Israel, di tengah konflik yang terus berlangsung di Lebanon.

Pemimpin baru Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan bahwa pihaknya akan terus bertempur melawan Israel hingga ditawarkan proposal gencatan senjata yang dianggapnya dapat diterima.

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi mengusulkan gencatan senjata selama dua hari antara Israel dan Hamas untuk melakukan pertukaran empat tawanan.

Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa gencatan senjata akan menjadi kunci dalam mengakhiri konflik dengan Israel. Namun, ia juga memperingatkan pihaknya akan tetap meluncurkan roket jika Israel terus menyerang Lebanon.

Hamas mengatakan bahwa pihaknya siap untuk melaksanakan gencatan senjata dengan Israel di Gaza berdasarkan proposal Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden tanpa tambahan syarat baru dari pihak mana pun.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menerima proposal baru untuk gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pertukaran tawanan. Namun, Hamas menyebut proposal itu hanya memenuhi persyaratan dari Netanyahu.

Perundingan gencatan senjata Gaza akan dilanjutkan pada Minggu depan guna mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hamas serta membebaskan para tawanan perang.

Israel dan Hamas hingga kini belum menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat (AS), sementara korban warga Palestina yang tewas terus bertambah menjadi lebih dari 40.000 jiwa.