Sinyal berakhirnya ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini menggelinding kencang. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melempar kode keras, kesepakatan permanen untuk menyudahi konflik segitiga tersebut sudah di depan mata.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah menghambat proses diplomasi karena tindakannya yang 'kontradiktif'.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS), yang dimediasi Pakistan, terus berlangsung tetapi menghadapi "jalan yang sangat sulit."
Pakistan, selaku mediator, menyatakan optimis bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai kesepakatan. Hal itu disampaikan setelah Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengunjungi beberapa negara termasuk Cina.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Cina Wang Yi di Beijing pada Rabu (6/5). Pertemuan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) terkait Selat Hormuz.
Kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi ke Rusia bukan sekadar mempererat hubungan kedua negara. Profesor di Doha Institute for Graduate Studies, Mohamed Elmasry menilai bahwa pertemuan itu untuk menunjukkan bahwa Iran tidak "terisolasi seperti yang digambarkan Amerika Serikat (AS)."
Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan dukungan dan memuji rakyat Iran atas perjuangan menghadapi serangan AS-Israel. Hal itu ia ungkapkan saat bertemu Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi di St. Petersburg, Rusia, Senin (27/4).
Iran memberi proposal baru ke AS berupa membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Namun, perundingan terkait nuklir ditunda ke tahap selanjutnya.
Iran menyatakan bahwa delegasinya telah tiba di Ibu Pakistan, Islamabad, untuk melakukan perundingan lanjutan. Namun, tidak berencana untuk melakukan perundingan tatap muka dengan Amerika Serikat (AS).