Bendungan Tenaga Listrik Ukraina Hancur, Siapa Pihak yang Paling Diuntungkan?

Jakarta, IDM – Bendungan pembangkit listrik tenaga air Kakhovka di Ukraina bagian selatan hancur pada beberapa hari lalu. Perdebatan antara Ukraina dan Rusia pun muncul, mereka saling lempar tuduhan terkait siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Pihak Ukraina mengungkapkan bahwa bendungan Kakhovka sendiri telah berada di bawah kendali Rusia sejak awal konflik. Mereka menilai, Rusia telah menyebarkan bahan peledak dan menghancurkan bendungan yang menampung 18 kilometer kubik air tersebut.
Sementara, pihak Rusia menyatakan Ukraina dengan sengaja meledakkan bendungan itu agar mendapat perhatian dan menciptakan kondisi yang menguntungkan atas empati masyarakat global. Selain itu, jalur air bendungan ini juga menuju wilayah Krimea yang telah dianeksasi oleh Rusia pada tahun 2014. Sehingga hancurnya bendungan ini juga akan berpengaruh terhadap pasukan maupun markas militer Rusia yang bersiaga di sana.
Baca Juga: Jenderal Rusia Dilaporkan Tewas Dalam Serangan Balik Ukraina
Meskipun dalangnya hingga kini masih menjadi misteri, siapa yang paling diuntungkan dengan hancurnya bendungan yang menampung 18 kilometer kubik air tersebut?
Menurut Taufan H. Akbar, dosen Hubungan Internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani, Rusia menjadi pihak yang paling diuntungkan. Hal ini dinilai dari pertimbangan direct impact terhadap konflik yang berlangsung, khususnya kerugian luar biasa yang dirasakan oleh Ukraina.
Pertama, kerugian ini cukup terlihat ketika fokus pemerintah Ukraina terbagi menjadi evakuasi dan pertahanan. Sesaat setelah bendungan hancur, proses evakuasi segera dilakukan terhadap beberapa pemukiman warga.
Baca Juga: Uni Eropa Tolak Tentara NATO Terlibat Konflik di Ukraina
Kemudian, banjir yang dihasilkan menjadi hambatan bagi jalur pergerakan militer, sehingga mereka akan lebih sulit “bergerilya” melawan tentara Rusia. Terlebih lagi, masalah tambahan muncul karena diduga terdapat beberapa ladang ranjau yang tergenang air dan menjadi ancaman baru baik bagi tentara maupun masyarakat sekitar.
Lalu, pasokan energi dan air berkurang. Hancurnya bendungan tentu mempengaruhi pasokan air dan listrik. Sebab, bendungan ini berfungsi sebagai PLTA. Semakin berkurangnya dua aspek itu, akan berpengaruh besar terhadap kapabilitas militer Ukraina.
Terakhir, munculnya risiko bencana nuklir. Sebelumnya, bendungan Kakhovka telah menjadi reservoir yang mendinginkan seluruh reaktor nuklir Zaporizhzhia. Sehingga, turunnya tingkat air untuk mendinginkan turbin nuklir tersebut menyebabkan kekhawatiran sendiri bagi Ukraina. Mereka khawatir sewaktu-waktu reaktor tersebut mengalami masalah dan mengulang tragedi Chernobyl. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































