Ukraina mengatakan bahwa pihaknya akan berupaya mempertahankan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Donald Trump menghentikan bantuan militer ke Kyiv.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa sejumlah negara di Eropa telah tertarik untuk berkoalisi membantu Ukraina, yang telah berperang dengan Rusia selama tiga tahun.
Badan Intelijen Korea Selatan (Korsel) mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) tampaknya telah mengerahkan pasukan tambahan untuk mendukung Rusia melawan Ukraina di medan tempur. Namun, belum diketahui secara pasti jumlah pasukan tersebut.
Presiden Cina Xi Jinping menegaskan kemitraan tanpa batas dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan mendukung diskusi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa ia bersedia mundur dari jabatannya jika itu dapat menjamin perdamaian di Ukraina dan keanggotaan di NATO.
Salah satu dari dua tentara Korea Utara (Korut) yang ditangkap Ukraina di medan tempur mengaku ingin pergi ke Korea Selatan (Korsel). Pemerintah Seoul pun menyatakan bersedia memberi perlindungan untuk tentara tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa ia telah melakukan pertemuan yang produktif dengan Keith Kellogg, utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk Ukraina dan Rusia di Kyiv.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku siap untuk kembali ke meja perundingan untuk membahas penyelesaian konflik Ukraina. Namun, ia menekankan bahwa membangun kepercayaan dengan Amerika Serikat (AS) sangat penting dalam negosiasi.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa pihaknya menolak pasukan penjaga perdamaian dari negara anggota NATO untuk dikerahkan di Ukraina.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan bahwa negaranya akan mempertimbangkan untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian di Ukraina pascaperang. Namun, ia menegaskan perlu ada negosiasi lebih mendetail sebelum keputusan itu diambil.