Tangerang, IDM - Sejumlah prajurit TNI mengusung peti jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat upacara pelepasan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4).
Indonesia mendesak evaluasi dan penguatan perlindungan pasukan perdamaian di bawah naungan PBB (peacekeeper) khususnya UNIFIL. Hal itu diungkapkan usai insiden terjadi untuk ketiga kalinya di Lebanon, yang melukai tiga prajurit TNI.
Prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), menjadi korban lagi setelah terjadi ledakan di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di dekat El Adeisse, Sektor Timur, Lebanon Selatan, Jumat (3/4) sore waktu setempat.
Komandan Satgas Kolonel Inf Fardin Wardhana memimpin upacara kenaikan pangkat 37 prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas BGC XXXIX-G Monusco di Yudhoyono Camp, Republik Demokratik Kongo pada Rabu (1/4).
TNI AD dari Kodam XV/Pattimura memastikan pihaknya akan menelusuri laporan terkait dugaan oknum anggotanya menjadi calo casis (calon siswa) untuk masuk menjadi prajurit TNI.
Pemerintah Republik Indonesia, melalui Wakil Tetap RI untuk PBB Duta Besar Umar Hadi menuntut dilakukannya penyelidikan yang segera, menyeluruh, dan transparan atas gugurnya prajurit TNI yang tergabung dalam Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Satu prajurit TNI gugur akibat artileri Israel menghantam markas pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan, pada Minggu (29/3) petang waktu setempat.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan prajurit TNI memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa, melindungi kekayaan alam nasional.