Pembangunan kekuatan pertahanan maritim Indonesia memasuki fase krusial seiring pelaksanaan Optimum Essential Force (OEF) 2025–2029. Salah satu agenda utama adalah penguatan kemampuan bawah laut TNI Angkatan Laut melalui modernisasi armada kapal selam dan pembangunan sistem deteksi bawah air yang terintegrasi.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali membeberkan pemeliharaan dan perawatan (harwat) kapal selam Scorpene Evolved bakal jauh lebih mudah. Kemudahan ini didorong oleh penguatan fasilitas galangan PT PAL Indonesia serta alih teknologi dari galangan Naval Group, Prancis.
Upacara pemotongan pelat baja pertama atau first steel cutting kapal selam Scorpene Evolved akan digelar di galangan PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (7/8).
Kapal selam kelas Reis buatan Turki ini, bahkan mampu beroperasi lebih lama di bawah permukaan laut dengan tingkat siluman yang lebih tinggi. Kapal selam ini lahir dari kebutuhan Ankara untuk menggantikan armada kapal selam yang lebih tua sekaligus meningkatkan kemampuan peperangan bawah laut dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di Laut Mediterania, Laut Hitam, Laut Aegea, serta kawasan strategis lain yang menjadi kepentingan nasional Turki.
Kapal selam merupakan salah satu instrumen strategis paling penting dalam pertahanan maritim modern. Namun, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pembangunan kapal selam tidak hanya berbicara mengenai penambahan alutsista, melainkan juga tentang penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan kemandirian industri pertahanan nasional.
Proyek kapal selam canggih Scorpene Evolved untuk TNI AL memasuki babak baru. PT PAL Indonesia dan galangan kapal asal Prancis, Naval Group, resmi memulai tahapan pra-produksi.
TNI AL langsung menerjunkan dua kapal perang berkemampuan jelajah tinggi ke Laut Jawa. Langkah taktis ini diambil untuk merespons kehadiran kapal selam milik Angkatan Laut Pakistan yang terdeteksi mengarungi perairan Jakarta.
Tiga kapal perang Angkatan Laut Pakistan resmi bersandar di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (19/5). Kedatangan gugus tugas militer asing yang membawa serta kapal selam ini bertujuan untuk memperkuat diplomasi maritim sekaligus mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Pakistan.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali membocorkan jadwal kedatangan alutsista penyelamat kapal selam asal Inggris. Proyek strategis yang telah diinisiasi sejak masa kepemimpinan Prabowo Subianto saat menjabat Menteri Pertahanan ini bernilai £128 juta atau setara Rp2,5 triliun dan dijadwalkan tiba pada pertengahan 2027.