Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengecam serangan udara Israel yang menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan menilai serangan itu memicu perang besar di Timur Tengah.
Israel diyakini menggunakan bom seberat 2000 pon (sekitar 900 kg) buatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan yang menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di Beirut, Lebanon pada beberapa waktu lalu.
Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) kembali melakukan serangkaian serangan udara di Lebanon yang diklaim menargetkan markas besar Hizbullah pada Sabtu (28/9) waktu setempat.
Abbas mendesak masyarakat internasional untuk berhenti mengirim senjata ke Israel, yang hanya memperburuk pertumpahan darah di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) mengklaim berhasil mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman dengan sistem pertahanan udara Arrow, pada Jumat (27/9) pagi waktu setempat. Puing-puing rudal dilaporkan jatuh di wilayah Israel tengah.
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengaku optimis bahwa gencatan senjata dapat segera dicapai untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang mengguncang negaranya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melakukan genosida seperti Adolf Hitler.