Presiden Iran Sebut Israel Berupaya Memperluas Perang di Timur Tengah

Jakarta, IDM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut Israel berupaya memperluas konflik di Timur Tengah sekaligus menyeret Iran dalam pertempuran tersebut.
"Kami tidak ingin berperang. Israel yang ingin menyeret semua orang ke dalam perang dan mengacaukan kawasan. Mereka menyeret kita ke titik yang tidak ingin kita tuju," kata Pezeshkian melansir AP, Selasa (24/9).
Menurutnya, meskipun otoritas Israel bersikeras tidak ingin memperburuk konflik, tindakan Israel justru menunjukkan sebaliknya. Pezeshkian merujuk pada ledakan ribuan pager di Lebanon dan pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada tanggal 31 Juli lalu.
Baca Juga: Israel-Hizbullah Saling Serang, Ratusan Orang di Lebanon Tewas
Ia menegaskan, Iran tidak berusaha untuk mengacaukan Timur Tengah. Ia pun menjelaskan bahwa serangan drone dan rudal Iran terhadap Israel pada bulan April lalu merupakan balasan atas pengeboman konsulat Iran di Ibu Kota Suriah, yang diyakini ulah Israel.
"Kami bersedia menyingkirkan semua senjata kami selama Israel bersedia melakukan hal yang sama," ujarnya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































