Angkatan Bersenjata Lebanon mengatakan bahwa mereka sedang bersiap untuk dikerahkan ke wilayah perbatasan di bagian selatan, setelah gencatan senjata antara Israel-Hizbullah mulai berlaku.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan bahwa gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon merupakan "sinar harapan pertama" dalam konflik di Timur Tengah.
Warga Lebanon yang mengungsi akibat konflik mulai kembali ke rumah mereka masing-masing usai diberlakukannya kesepakatan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel pada Rabu (27/11) dini hari waktu setempat.
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengungkapkan bahwa gencatan senjata untuk mengakhiri konflik Israel-Hizbullah di Lebanon telah disepakati dan akan segera diimplementasikan.
Komandan PMPP Mayjen TNI Taufik Budi Santoso memastikan pihaknya tetap mengirimkan personel UNIFIL (Pasukan Perdamaian PBB) ke Lebanon. Hal ini dikatakannya menanggapi konflik perang Israel di Lebanon.
Juru Bicara Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Kirby mengatakan bahwa negosiasi gencatan senjata Lebanon-Israel telah berjalan dengan positif walaupun masih belum mencapai kesepakatan.
Kepala Kebijakan Uni Eropa (UE) Josep Borrell mengatakan bahwa pihaknya siap mengalokasikan €200 juta (sekitar $209 juta) untuk membantu militer Lebanon dalam mengerahkan pasukan tambahan ke wilayah bagian selatan negara tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, mengatakan bahwa pihaknya tidak akan bersedia untuk melakukan pertukaran sandera dengan Israel hingga agresi di Gaza berakhir. Hal ini disampaikan di tengah upaya perundingan gencatan senjata.
Lebanon dan Hizbullah telah menyetujui rencana gencatan senjata dengan Israel yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS). Hal itu merupakan upaya paling signifikan untuk mengakhiri konflik.