Amerika Serikat (AS) mengaku siap menghadapi segala kemungkinan konflik di luar angkasa. Hal tersebut dikarenakan AS telah memiliki teknologi anti satelit untuk melawan konfrontasi yang mengancam keamanan negara.
Rudal hipersonik Cina diklaim mampu hancurkan USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia milik Amerika Serikat (AS). Pernyataan itu didasarkan atas sebuah simulasi perang melalui program khusus oleh pakar militer Cina.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov mengungkapkan bahwa terdapat hambatan besar dalam peroses pembicaraan damai dengan Ukraina. Menurutnya, sikap Ukraina dan negara-negara barat menjadi penyebab utama terciptanya hambatan tersebut.
Pemerintahan Rusia telah menahan seorang direktur lembaga sains terkemuka karena dicurigai melakukan pengkhianatan bersama dua ilmuwan. Mereka diduga secara sengaja membocorkan rahasia teknologi rudal hipersonik Rusia pada Cina.
Cina menolak rencana Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membuka kantor perwakilan di Jepang. Langkah perluasan itu disebut sebagai konfrontasi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan Asia Pasifik.
Sebanyak dua kapal perang Cina dilaporkan telah bertolak ke wilayah Pasifik Barat. Hal ini dilakukan setelah kapal induk Cina juga berlayar di wilayah perairan yang sama untuk melakukan patroli.
Cina telah mengirimkan dua kapal fregat untuk Angkatan Laut Pakistan, di tengah kerja sama pertahanan yang semakin erat antara kedua negara. Pengiriman ini menandai tuntasnya transaksi pembelian empat kapal fregat yang disepakati pada tahun 2018.
Lima kapal milisi maritim Cina mengubah arah dan berbelok menuju enam kapal perang negara ASEAN yang tengah melakukan latihan maritim ASEAN-India (AIME) perdana di Laut Cina Selatan, Senin (8/5).
Cina telah merombak undang-undang terkait kemiliteran yang berlaku bagi warganya. Perubahan tersebut memungkinan pensiunan untuk kembali mendaftar ulang menjadi anggota, sebagai bagian dari upaya meningkatkan perekrutan yang berfokus pada keahlian terkait luar angkasa dan perang siber.
Angkatan laut Singapura dan Cina menggelar latihan bersama (latma) untuk pertama kalinya sejak 2021. Latihan yang dilakukan hingga 1 Mei ini merupakan bagian dari memperkuat hubungan pertahanan dan keamanan bilateral di tengah postur militer Amerika Serikat (AS) yang meluas di kawasan Asia Tenggara.