TNI Angkatan Udara (TNI AU), sebagai salah satu unsur pertahanan negara, tidak hanya bertugas menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia, tetapi juga berperan penting dalam berbagai operasi militer selain perang (OMSP), termasuk misi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR).
Bencana yang melanda Sumatra dalam beberapa hari terakhir, membuat pemerintah harus membuka seluruh opsi percepatan bantuan, termasuk airdrop. Sebelumnya, publik juga mengikuti kisah airdrop bantuan kemanusiaan Indonesia ke Gaza yang penuh risiko. Dua momentum ini membuat istilah airdrop semakin akrab, tetapi juga memunculkan banyak miskonsepsi.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak menjelaskan soal airdrop bantuan korban bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, yang tidak maksimal.
Pesawat angkut C-130J Super Hercules milik TNI AU menerjunkan 20 bundel bantuan menggunakan payung low cost low altitude (LCLA) untuk korban bencana di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12).
TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersiap mendukung misi airdrop bantuan bagi warga terdampak bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh dengan menggunakan metode Low Cost Low Altitude (LCLA).
TNI menggunakan pesawat C-130J Super Hercules melaksanakan penerjunan bantuan logistik lewat metode airdrop di lokasi bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Senin (1/11).
Upaya mengasah kemampuan prajurit soal medical evacuation (medevac) dan airdrop, TNI Angkatan Udara dan Royal Australian Air Force (RAAF) melaksanakan latihan Rajawali Ausindo di Morotai, Maluku Utara, Kamis (6/11).
Komandan Satuan Tugas Garuda Merah Putih II Kolonel (Pnb) Puguh Yulianto mengungkap tantangan satgas saat misi airdrop bantuan logistik di Jalur Gaza dan sekitarnya.