Respons Invasi Rusia ke Ukraina, Australia Tingkatkan Anggaran Pertahanan

Jakarta, IDM - Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan, pemerintah Australia akan meningkatkan pengeluaran untuk pertahanan dan keamanan nasional, sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga negara.
"Investasi lebih lanjut dalam pertahanan dan keamanan nasional mencerminkan tantangan yang sekarang kita hadapi," kata Frydenberg dikutip dari APNews, Rabu (30/03/22).
Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga mengumumkan Australia juga akan menambah jumlah personel pertahanan aktifnya sekitar 30% pada tahun 2040, dari 60.000 menjadi 80.000 personel.
Australia juga akan melakukan ekspansi militer tersebar sejak 40 tahun, yang akan menelan biaya sekitar 38 miliar dolar Australia atau setara dengan Rp392,77 triliun.
Peningkatan anggaran pertahanan Australia ini sebagai respon invasi Rusia ke Ukraina serta ancaman militer Tiongkok.
Perang di Ukraina memang telah memicu perlombaan kepemilikan senjata di dunia. Beberapa negara besar mulai menambah dan memodernisasi Alat utama sistem persenjataan (Alutsista) mereka, termasuk Australia. (ADT)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































