Jakarta, IDM โย Israel dan Hamas saling menyalahkan karena kurangnya kemajuan dalam mencapai kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Dilansir dari Reuters, Selasa (30/7), Hamas menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menambahkan persyaratan dan tuntutan baru pada proposal gencatan senjata yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS), setelah negosiasi bersama mediator dalam waktu yang cukup lama.
“Jelas dari apa yang disampaikan para mediator bahwa Netanyahu telah kembali ke strateginya untuk menunda-nunda, mengelak, dan menghindari tercapainya kesepakatan dengan menetapkan persyaratan dan tuntutan baru,” kata Hamas.
Baca Juga:ย Filipina akan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tahun Depan
Sementara, Pemerintahan Netanyahu membantah melakukan perubahan apa pun dan menyebut Hamas adalah pihak yang bersikeras melakukan banyak perubahan pada proposal tersebut.
“Israel berpegang teguh pada prinsipnya sesuai dengan proposal awal; jumlah maksimum sandera (yang akan dibebaskan) yang masih hidup, kendali Israel atas Koridor Philadelphia (di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir), dan mencegah pergerakan teroris dan senjata ke Jalur Gaza utara,” katanya.
Menanggapi tuduhan Israel tersebut, Pejabat politik senior Hamas, Izzat El-Reshiq membantah bahwa mereka telah mengajukan persyaratan baru. Menurutnya, Netanyahu dengan sengaja mengulur-ulur waktu.
Baca Juga:ย Peringati Hari PLA, Tiongkok Tegaskan Komitmen Jaga Perdamaian Dunia
“Para mediator menyadari bahwa Hamas menunjukkan fleksibilitas dan sikap positif serta membuka jalan untuk mencapai kesepakatan dan menghindari hambatan Israel,” kata Reshiq.
Netanyahu disebut telah mengajukan persyaratan baru yang mustahil terkait pemulangan pengungsi Palestina ke rumah mereka dan Israel menolak untuk mundur dari Rafah. (bp)