
Korsel Luncurkan Satelit Pengintai Militer untuk Pertama Kalinya
Korea Selatan (Korsel) meluncurkan satelit pengintai militer untuk pertama kalinya, kurang lebih seminggu setelah Korea Utara (Korut) juga berhasil meluncurkan satelit serupa.
Ikuti perkembangan, konteks, dan liputan terkait dalam satu tempat.

Korea Selatan (Korsel) meluncurkan satelit pengintai militer untuk pertama kalinya, kurang lebih seminggu setelah Korea Utara (Korut) juga berhasil meluncurkan satelit serupa.

Korea Utara (Korut) mengklaim satelit pengintainya berhasil memfoto beberapa tempat strategis di negara lain, salah satunya Gedung Putih, Pentagon dan kapal induk AS di pangkalan angkatan laut Norfolk.

Korea Utara (Korut) memperingatkan bahwa mereka akan terus menggunakan haknya dalam meluncurkan satelit pengintai militer tambahan. Pasukannya pun dilaporkan telah memulihkan beberapa pos penjagaan di perbatasan dengan Korea Selatan (Korsel).

Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un mengatakan bahwa peluncuran satelit pengintai beberapa waktu lalu merupakan wujud hak untuk membela diri. Pernyataan itu diungkapkan usai Korea Selatan (Korsel) menangguhkan sebagian perjanjian militer antar-Korea atas peluncuran tersebut.

Korea Utara (Korut) mengklaim telah berhasil meluncurkan satelit pengintai militer untuk pertama kalinya. Tindakan itu pun mendapat kecaman dari berbagai negara seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel).

Korea Selatan (Korsel) memperingatkan Korea Utara (Korut) untuk segera menghentikan upaya peluncuran satelit pengintai militer dan akan melakukan 'tindakan yang diperlukan' jika itu terjadi.

Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (Korsel) atau NIS mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) telah berkali-kali mengirim amunisi ke Rusia dan kini sedang mempersiapkan peluncuran satelit pengintai.

Iran berencana melakukan pembicaraan dengan Rusia untuk menjajaki kerja sama dalam membangun satelit pengintai baru yaitu Khayyam-2 dalam waktu dekat.

Korea Utara (Korut) menyebut program satelit pengintai sangat diperlukan untuk melawan militerisasi ruang angkasa Amerika Serikat (AS). Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tempur nuklir dan mengamankan 'supremasi dunia'.

Upaya kedua Korea Utara (Korut) untuk menempatkan satelit pengintai di orbit kembali gagal dilakukan setelah pendorong roket mengalami masalah. Satelit itu disebut jatuh ke laut karena kurangnya daya dorong di tahap ketiga.