Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang ditandatangani oleh Presiden Korea Utara (Korut) dan Rusia pada Juni lalu, dinyatakan resmi berlaku setelah keduanya bertukar instrumen ratifikasi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menegaskan kembali bahwa pasukan Korea Utara (Korut) yang bertempur melawan Ukraina adalah "target yang sah".
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa pihaknya ingin merebut kembali wilayahnya yang saat ini berada di bawah kendali Rusia melalui jalur diplomatik.
Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Jake Sullivan mengatakan bahwa pihaknya tidak berencana untuk mengirim senjata nuklir ke Ukraina di tengah konflik dengan Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa negaranya harus berada di bawah lindungan aliansi pertahanan NATO untuk menghentikan 'fase panas' perang dengan Rusia.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Joint Chief of Staff/JCS) mengatakan bahwa lima pesawat militer Cina dan enam Rusia memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korsel (South Korea Air Defense Identification Zone/KADIZ). Hal itu ditanggapi Korsel dengan mengirim pesawat tempur sebagai peringatan.
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa jika Barat mentransfer senjata nuklir ke Ukraina, Rusia akan menanggapi ancaman itu dengan semua senjata yang dimiliki.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa pihaknya akan terus menguji coba Oreshnik, rudal balistik dengan hulu ledak hipersonik non-nuklir yang baru dikembangkan.
Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan (Korsel), Shin Won-sik melaporkan bahwa Rusia telah mengirim rudal dan komponen pertahanan udara ke Korea Utara (Korut).