Korea Selatan (Korsel) berencana untuk sepenuhnya menangguhkan perjanjian militer dengan Korea Utara (Korut) yang dibuat pada tahun 2018, usai insiden pengiriman ribuan balon pembawa sampah selama beberapa hari terakhir.
Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara (Korut) Kim Kang Il mengatakan pihaknya akan berhenti mengirim balon pembawa sampah ke Korea Selatan (Korsel). Menurutnya, tindakan itu sudah cukup memberikan rasa tidak nyaman bagi negara tetangganya tersebut.
Badan intelijen Amerika Serikat (AS) merilis sebuah laporan analisis yang mengkonfirmasi bahwa Rusia menggunakan rudal balistik Korea Utara (Korut) dalam konflik bersenjata dengan Ukraina.
Korea Utara (Korut) meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke Laut Timur, sehari setelah mengirimkan lebih dari 200 balon berukuran besar yang berisikan sampah ke Korea Selatan (Korsel).
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menekankan pentingnya sistem pengintaian luar angkasa untuk pertahanan nasional dan akan terus mengembangkan kemampuan tersebut.
Korea Utara (Korut) mengatakan bahwa peluncuran satelit pengintai militer yang kedua mengalami kegagalan karena mesin roketnya meledak di tengah penerbangan.
Korea Selatan (Korsel) menggelar latihan udara di dekat perbatasan dengan Korea Utara (Korut) sebagai tanggapan atas rencana peluncuran satelit pengintai militer.
Japan Coast Guard (JCG) mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) telah menginformasikan rencana peluncuran satelit pengintai militer yang kedua antara tanggal 27 Mei dan 4 Juni mendatang.
Pihak militer Korea Selatan (Korsel) mengatakan mengklaim telah mendeteksi tanda-tanda bahwa Korea Utara (Korut) sedang mempersiapkan peluncuran satelit pengintai kedua dalam waktu dekat.
Otoritas militer Korea Selatan (Korsel) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) telah menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ke Laut Timur. Hal ini dilakukan kurang dari sebulan usai Korut menembakkan beberapa rudal balistik serupa ke perairan tersebut.