Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Iran telah membantu Rusia untuk membuat drone kamikaze di sebuah fasilitas industri senjata di wilayah timur Moskow. Iran disebut aktif mengirim komponen drone yang dibutuhkan oleh Rusia.
Iran mengklaim bahwa mereka telah mengembangkan rudal hipersonik untuk pertama kalinya. Rudal yang diberi nama Fattah ini disebut dapat menembus sistem pertahanan rudal negara manapun dan mewujudkan ambisi Iran untuk memiliki keunggulan militer.
Iran baru-baru ini mengklaim berhasil meluncurkan rudal balistik generai keempat yang diberi nama Khaibar. Uji coba tersebut telah meningkatkan ketegangan global, menyusul pernyataan oleh beberapa petinggi negara mengenai kemungkinan eskalasi nuklir Iran.
Pemerintahan Iran menyebutkan bahwa mereka berhasil meluncurkan rudal balistik baru generasi keempat yang diberi nama Khaibar pada Kamis (25/5). Rudal itu diklaim merupakan jenis paling canggih yang mampu menjangkau target sejauh 2.000 km.
Iran membangun fasilitas nuklir bawah tanah yang terletak di dekat puncak Pegunungan Zagros. Fasilitas itu dibangun sangat dalam hingga disebut berada di luar jangkauan senjata Amerika Serikat (AS) yang dirancang untuk menghancurkan situs serupa.
Militer AS menyatakan telah melancarkan serangan udara terhadap dua lokasi milisi yang didukung Iran di Suriah Timur sebagai tanggapan atas serangan drone yang menewaskan seorang warganegara AS sehari sebelumnya.
Cina menggelar latihan angkatan laut bersama sekutunya yaitu Rusia dan Iran di Teluk Oman pada 15 sampai 19 Maret 2023. Latihan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan menjaga stabilitas perdamaian di kawasan.
Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terbaru pada sekelompok perusahaan Cina yang memasok komponen drone ke industri pertahanan Iran. Drone Shahed-136 ini terbukti telah digunakan Rusia dalam invasinya di Ukraina.
International Atomic Energy Agency (IAEA) melaporkan bahwa Iran telah mengolah uranium hingga berada di tingkat kemurnian 83,7 persen. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena mendekati tingkat uranium yang dibutuhkan untuk membuat bom atom yaitu 90 persen.
Iran mengklaim bahwa mereka telah mengembangkan rudal jelajah yang mampu menjangkau target hingga sejauh 1.650 kilometer. Rudal yang diberi nama Paveh ini disebut sebagai yang tercanggih dan menjadi langkah Iran untuk upaya defensif maupun pencegahan.