Pertempuran sengit antara pasukan Israel dan Hamas di Kota Rafah, Gaza bagian selatan, menyebabkan pintu akses bantuan kemanusiaan ditutup dan memaksa lebih dari 110.000 orang mengungsi ke utara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pasukannya akan menyerang Rafah "dengan atau tanpa kesepakatan" untuk mencapai kemenangan total dalam perang yang berlangsung hampir tujuh bulan tersebut.
Seorang pejabat tinggi Hamas mengatakan bahwa pihaknya bersedia 'meletakkan senjatanya' dan berubah menjadi partai politik jika negara Palestina merdeka didirikan berdasarkan garis perbatasan sebelum 1967.
Perundingan mengenai gencatan senjata antara Israel dan Hamas tampaknya hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Kedua belah pihak tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka siap untuk berkompromi.
Hamas mengaku menyambut baik resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan gencatan senjata di Gaza dan siap untuk segera melakukan pertukaran tahanan dengan Israel.
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kembali menekankan bahwa warga sipil Palestina harus dilindungi di tengah konflik yang sedang bergejolak antara Israel dan Hamas. Namun, PBB menolak pemindahan secara paksa warga Palestina yang mayoritas mengungsi di wilayah Rafah.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas akibat konflik di Gaza telah mencapai 25,105 orang sejak 7 Oktober lalu.
Kapal induk terbesar Amerika Serikat (AS) USS Gerald R. Ford, yang dikerahkan ke Mediterania Timur usai pecahnya konflik Israel-Hamas, akan kembali ke AS dalam beberapa hari mendatang.
Pemerintah Mesir telah mengajukan proposal gencatan senjata permanen untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Israel-Hamas di Gaza. Proposal ini digambarkan sebagai rencana yang ambisius karena bertujuan membentuk perdamaian abadi di wilayah tersebut.
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil mengesahkan resolusi berisikan desakan gencatan senjata segera di Gaza akibat konflik antara Israel dan Hamas.