Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menyepakati gencatan senjata permanen di Gaza sampai kemampuan militer dan pemerintahan Hamas dihancurkan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk tetap melanjutkan perang melawan Hamas di tengah kecaman internasional atas serangan udara yang menewaskan sejumlah warga sipil Palestina di Rafah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) yang memerintahkan penangkapan terhadapnya. Ia menyebut bahwa perintah itu "tidak akan mengikat tangan Israel" untuk tetap melakukan serangan terhadap Hamas di Gaza.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken memperingatkan konsekuensi serangan besar-besaran Israel ke Rafah. Menurutnya, serangan itu tetap tidak akan melenyapkan Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pasukannya akan menyerang Rafah "dengan atau tanpa kesepakatan" untuk mencapai kemenangan total dalam perang yang berlangsung hampir tujuh bulan tersebut.
Pemerintah Israel menunda rencana invasi darat ke Kota Rafah, di selatan Jalur Gaza, usai diserang oleh Iran menggunakan ratusan drone dan rudal pada beberapa waktu lalu.
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden disebut telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahwa AS tidak akan mengambil bagian dalam serangan balasan terhadap Iran.
Israel dan Hamas sepakat untuk menghentikan pertempuran selama empat hari dan melakukan pertukaran tawanan sebanyak 50 orang yang ditahan di Gaza serta 150 warga Palestina yang ditahan di Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan untuk melakukan gencatan senjata di Gaza. Ia menuntut Hamas untuk mengembalikan lebih dari 240 sandera yang ditahan sejak 7 Oktober lalu.