AS Sebut Serangan Israel ke Rafah Tidak akan Lenyapkan Hamas

Jakarta, IDM – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken memperingatkan konsekuensi serangan besar-besaran Israel ke Rafah. Menurutnya, serangan itu tetap tidak akan melenyapkan Hamas.
Dilansir dari NBC, Senin (1/5), Blinken mengatakan bahwa serangan Israel ke Rafah akan memicu 'anarki' tanpa melenyapkan Hamas. Ia pun mengakui invasi itu berpotensi memakan korban dengan skala besar.
Baca Juga: Putin Tunjuk Seorang Ekonom untuk Gantikan Menhan Shoigu
“Israel berada dalam jalur yang berpotensi mewarisi pemberontakan dengan banyak anggota Hamas bersenjata, atau, jika Israel memutuskan untuk berhenti, maka kekosongan tersebut akan diisi oleh kekacauan, diisi oleh anarki dan bahkan mungkin diisi kembali oleh Hamas,” kata Blinken.
Sementara, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menyebut Blinken telah berbicara dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant untuk menegaskan posisi AS yang menentang invasi di Rafah tersebut.
Baca Juga: HRW: Paramiliter Sudan Telah Lakukan Pembersihan Etnis
“Menteri (Blinken) menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk melindungi warga sipil dan pekerja kemanusiaan di Gaza,” kata Miller. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































