Jakarta, IDM โ Sebanyak enam unsur Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL di jajaran Koarmada II terlibat dalam tahap manuver lapangan pada latihan operasi laut aspek udara 2024 di Laut Jawa dan wilayah Surabaya, Selasa (9/7).
Keenam unsur SSAT terdiri dari KRI Surabaya-591, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, lalu tiga unit armada udara dari Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), yaitu pesawat CN-235 MPA, helikopter antikapal selam AS565 MBe Panther, dan pesawat nirawak (drone) UAV ScanEagle.
“Didukung juga berbagai satuan lainnya dari Pasmar 2 Surabaya dan personel Rumah Sakit Pusat TNI AL (RSPAL) dr. Ramelan Surabaya,” ujar Kadispen Puspenerbal Kolonel Laut (KH) Rohman Arif, dalam keterangannya, dikutip Rabu (10/7).
Baca Juga: KSAD Bertemu Jenderal Roy Galido, Bahas Keamanan Asia Tenggara
Rohman mengatakan, berbagai unsur SSAT yang terlibat dalam latihan operasi laut aspek udara ini akan menjalankan skenario manuver lapangan sesuai tugas masing-masing, seperti yang tertuang dalam susunan rencana operasi.
Dalam skenario latihan, disinyalir negara Wano akan menggelar invasi ke Indonesia melalui laut. Lalu, pesawat udara CN-235 MPA ditugaskan untuk berpatroli di perairan utara Pulau Raftel dan ditemukan satu unsur kapal selam musuh di sekitar wilayah tersebut.
“Sebagai bagian dari SSAT yang beroperasi secara sinergi dengan unsur-unsur KRI I Gusti Ngurah Rai dan CN-235 melaporkan ke komando atas dan selanjutnya menghubungi KRI I Gusti Ngurah Rai selaku kapal markas,” kata Rohman.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Puspenerbal meluncurkan satu unit UAV ScanEagle yang berada di atas KRI Abdul Halim Perdanakusuma. Drone tersebut ditugaskan untuk melakukan pengintaian taktis, bersama dengan helikopter Panther di atas KRI I Gusti Ngurah Rai.
Baca Juga: Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Turki yang Kian Mesra
Setelah sonar dari KRI I Gusti Ngurah Rai berhasil melacak kapal selam milkk negara Wano, selanjutnya komando atas memerintahkan peluncuran torpedo dari helikopter Panther untuk menghancurkan kapal selam tersebut.
“Beberapa saat setelah penembakan, melalui pelaporan UAV dan CN-235 terkonfirmasi kapal selam berhasil dihancurkan,” jelas Rohman.
Di sisi lain, lanjutnya, kapal selam musuh terlebih dahulu meluncurkan peluru kendali (rudal) sebelum dihancurkan oleh torpedo helikopter Panther. Tembakan rudal tersebut menyebabkan satu KRI milik TNI AL mengalami kerusakan di buritan lambung kanan.
“Beberapa anak buah kapal (ABK) diskenariokan dari KRI tersebut jatuh ke laut dan korban terombang-ambing di lautan sehingga perlu bantuan penyelamatan,” tuturnya. (at)