INTERNASIONAL

Cina Peringatkan Filipina untuk Akhiri 'Provokasi' di Laut Cina Selatan

Kapal penjaga pantai Filipina
Kapal penjaga pantai Filipina yang dihadang oleh kapal perang jenis korvet Cina. (Foto: Dok. X/Jay Tarriela)

Jakarta, IDM - Cina memperingatkan bahwa Filipina telah melanggar kedaulatan wilayah dan hukum internasional dengan melakukan provokasi di Laut Cina Selatan. Tindakan itu disebutnya mengancam perdamaian dan stabilitas regional.

Dilansir dari Fmprc.gov.cn, Selasa (10/10), Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Cina mengatakan Filipina telah melakukan serangkaian provokasi di wilayah Laut Cina Selatan. Misalnya, selama beberapa bulan terakhir, Filipina seringkali mengirim pasokan logistik kepada pasukannya yang ditempatkan di sebuah kapal tua BRP Sierra Madre yang berubah menjadi pos militer di Second Thomas Shoal.

Cina telah mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut Cina Selatan, merujuk pada garis di petanya yang memotong beberapa zona ekonomi eksklusif negara termasuk Filipina. Sementara, pengadilan arbitrase internasional pada tahun 2016 mengatakan klaim Cina itu tidak memiliki dasar hukum.

Baca Juga: Turki Tangkap 2.554 Buron Usai Serangan Bom di Ankara

Kendati demikian, Cina menolak putusan arbitrase itu dengan menyebutnya ilegal. Oleh sebab itu, segala tindakan Filipina termasuk kapal nelayan, seringkali di hadang oleh kapal penjaga Cina jika memasuki wilayah yang dianggap kedaulatannya.

"Apa yang disebut sebagai putusan arbitrase Laut Cina Selatan adalah ilegal, batal demi hukum," kata Kemenlu Cina.

Selain itu, Kemenlu Cina juga menyinggung bahwa kapal BRP Sierra Madre seharusnya tidak lagi digunakan oleh Filipina. Cina pun telah berulang kali meminta Filipina untuk menarik kapal tersebut.

Baca Juga: Konflik Israel-Palestina, Badan Pangan PBB Serukan Akses Kemanusiaan Dipermudah

“Filipina berulang kali berjanji akan melakukan hal (penarikan) itu sesegera mungkin,” kata Kemenlu Cina.

“Namun, 24 tahun telah berlalu, dan kapal perang Filipina masih ada di sana. Cina tidak dapat menerima tindakan Filipina yang berulang kali menarik kembali kata-katanya dan melanggar kedaulatan wilayah Cina,” jelasnya.

Pemerintah Cina disebut berkomitmen untuk melakukan segala hal untuk menjaga kedaulatan teritorial serta hak dan kepentingan maritim. Maka dari itu, Filipina ditegaskan untuk berhenti membuat provokasi yang mengancam perdamaian regional. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.