
AS Kembali Umumkan Bantuan Militer untuk Ukraina Senilai $500 juta
Amerika Serikat (AS) kembali mengumumkan bantuan senjata tambahan untuk Ukraina senilai $500 juta, sebagai bentuk dukungan sebelum pergantian pemerintahan Joe Biden ke Donald Trump.
Arsip artikel dan kontribusi Bunga Permata di Indonesia Defense.

Amerika Serikat (AS) kembali mengumumkan bantuan senjata tambahan untuk Ukraina senilai $500 juta, sebagai bentuk dukungan sebelum pergantian pemerintahan Joe Biden ke Donald Trump.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres mengatakan bahwa jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad pada Minggu lalu menumbuhkan harapan di Suriah dan akan mendukung proses transisi di negara tersebut.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memperingatkan bahwa aliansi itu belum siap menghadapi ancaman yang akan dihadapi dari Rusia dalam beberapa tahun mendatang sehingga sudah saatnya untuk beralih ke 'pola pikir masa perang'.

Rusia mengatakan bahwa Ukraina telah menyerang landasan udara militer di Laut Azov dengan enam rudal balistik ATACMS buatan Amerika Serikat (AS) dan menegaskan serangan itu tidak akan dibiarkan.

Majelis Umum PBB (UN General Assembly/UNGA) menuntut gencatan senjata segera di Gaza usai 158 suara dari 193 anggota menyetujui resolusi untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak sekutu untuk memasok 10-12 sistem pertahanan udara Patriot tambahan untuk sepenuhnya melindungi wilayah udara negaranya. Hal itu ia ungkapkan usai serangan udara Rusia ke Kota Zaporizhzhia menewaskan empat orang.

Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat (Missile Defense Agency/MDA) berhasil uji coba mencegat rudal balistik jarak menengah di lepas pantai Guam untuk pertama kalinya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya ingin menjalin hubungan dengan pemimpin baru Suriah, usai jatuhnya rezim Bashir al-Assad.

Mohammed al-Bashir ditunjuk sebagai Perdana Menteri Suriah untuk sementara usai jatuhnya Presiden Bashar al-Assad, yang menguasai negara itu selama 24 tahun.

Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa pihaknya hampir mencapai tujuan operasi khusus yang dilakukan di Ukraina dengan memimpin 'inisiatif strategis' dalam pertempuran tersebut.