Di tengah perubahan lanskap global yang semakin dinamis, sistem pertahanan negara tidak lagi dapat dipahami secara sempit sebagai urusan militer semata. Indonesia kini dihadapkan pada spektrum ancaman yang jauh lebih kompleks, mulai dari konflik geopolitik hingga serangan nonmiliter berbasis teknologi. Dalam konteks ini, konsep pertahanan semesta menjadi semakin relevan dan mendesak untuk diperkuat.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mendorong Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk segera menyusun peta ancaman siber nasional yang bersifat eksplisit, dinamis, dan strategis.
Dinamika lingkungan strategis, ke depan akan semakin kompleks. Imbasnya, berbagai potensi ancaman muncul seperti serangan siber hingga penggunaan pesawat tanpa awak.
Dewan Pertahanan Nasional (DPN) menggelar admin game cyber security atau simulasi penanganan siber lintas kementerian/lembaga di Jakarta, Kamis (6/11).
Inggris mengungkap kampanye serangan siber Rusia yang menargetkan banyak organisasi, termasuk mereka yang terlibat dalam pengiriman bantuan ke Ukraina.
Dalam kurun lima tahun terakhir potensi ancaman terhadap keutuhan negara bisa datang dalam berbagai macam cara. Salah satunya adalah serangan siber (cyber threats) yang mampu mengganggu stabilitas politik, ekonomi dan sosial serta infrastruktur strategis negara.
Pemerintah Swiss mengalami peningkatan serangan siber dan disinformasi menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Ukraina yang akan digelar pada akhir pekan ini.
Amerika Serikat (AS) melakukan serangan siber terhadap kapal militer Iran yang telah mengumpulkan data intelijen terkait keberadaan kapal kargo di Laut Merah dan Teluk Aden.