Kehadiran Rafale di Skadron Udara 12 bukan sekadar pergantian alutsista dari Hawk menuju pesawat tempur yang lebih modern. Di belakangnya terdapat proses yang jauh lebih besar: mempersiapkan penerbang, teknisi, infrastruktur, prosedur, hingga membangun budaya operasi yang mampu mengikuti lompatan teknologi tersebut.
TNI Angkatan Udara (TNI AU) untuk pertama kalinya mengerahkan pesawat tempur Rafale dan pesawat angkut A400M dalam Misi Pegase 2026 bersama Angkatan Udara Prancis.
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) baru saja menerima sejumlah alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) terbaru sebagai bagian upaya peningkatan postur pertahanan udara.
Lanud Roesmin Nurjadin (RSN) Pekanbaru terus memantapkan persiapan menjelang kedatangan gelombang (batch) pertama pesawat tempur Rafale yang dijadwalkan tiba di Indonesia pada Januari 2026.
Angkatan Udara Pakistan diyakini telah menembak jatuh Pesawat Tempur Rafale milik India pada Rabu (7/5) lalu, sebagai serangan balasan usai Delhi meluncurkan serangan udara ke sembilan titik di Pakistan.
Panglima Komando Operasi Udara Nasional (Pangkoopsudnas) Marsdya TNI Tedi Rizalihadi melakukan kunjungan kerja (kunker) ke tiga pangkalan TNI Angkatan Udara (lanud) jajaran, yaitu Lanud Raden Sadjad Natuna, Lanud Supadio Pontianak, dan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru pada 14 hingga 15 April 2025.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Feri Yunaldi mengatakan, Skadron Udara 12 memiliki peran penting sebagai salah satu garda terdepan dalam operasi udara. Untuk itu, kesiapsiagaan, kewaspadaan, serta inovasi skadron harus terus diprioritaskan, khususnya jelang kedatangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) terbaru, pesawat tempur Rafale.
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono melakukan audiensi dengan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin di Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta, Selasa (7/1).