
AS: Selat Hormuz jadi Alat Tawar Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan bahwa Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar di tengah konflik yang terus berkecamuk.
Ikuti perkembangan, konteks, dan liputan terkait dalam satu tempat.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan bahwa Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar di tengah konflik yang terus berkecamuk.

Sejak bulan Mei 2026 lalu, masyarakat Negeri Hitu Meseng dan Negeri Morela di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku dirundung konflik. Kini masyarakat kedua wilayah dalam masa pemulihan pascakonflik tersebut.

Konflik yang kembali berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyebabkan terancamnya jalur maritim di Selat Hormuz. Selama 24 jam terakhir, lalu lintas kapal komersial melambat hingga hampir berhenti total di koridor tersebut.

Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap Iran, yang menargetkan puluhan situs militer di beberapa titik pada Minggu (13/7). Hal itu disebut sebagai upaya untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Cina mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk melanjutkan perundingan hingga mencapai solusi komprehensif atas konflik antara mereka.

Badan pengawas nuklir PBB atau International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan bahwa mereka siap untuk mulai menentukan "langkah-langkah konkret" yang diperlukan untuk mengimplementasikan Nota Kesepahaman (MoU) Amerika Serikat (AS)-Iran.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa Memorandum of Understanding (MOU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran guna mengakhiri konflik telah ditandatangani secara elektronik.

Pemerintah Indonesia dan Qatar menyatukan suara terkait situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Kedua negara mendesak segera dilakukan penurunan ketegangan atau de-eskalasi konflik demi mencegah meluasnya ketidakstabilan di wilayah tersebut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan telah diraih, yang dapat mendorong penyelesaian konflik dengan Iran.

Misi Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mengatakan bahwa ketegangan di Lebanon Selatan semakin meningkat dan menyebabkan bertambahnya korban jiwa, terluka maupun ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.