Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menyerang lebih dari 9.000 target sejak dimulainya serangan preemptif ke Iran pada 28 Februari lalu. Hal itu diungkapkan oleh Pusat Komando AS (US CENTCOM).
Iran membantah telah menggelar perundingan dengan Amerika (AS). Hal itu diungkapkan menepis pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa "percakapan yang sangat baik dan produktif" telah berlangsung untuk mengakhiri perang.
Serangan terbaru Israel terhadap Lebanon telah menewaskan tiga orang dan melukai 99 lainnya. Dengan demikian, total korban tewas menjadi 1.029 orang sejak 2 Maret lalu.
Mayoritas warga Amerika Serikat (AS) menentang serangan gabungan dengan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Mereka berpendapat bahwa serangan itu lebih menguntungkan Israel daripada AS.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa setiap upaya untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan AS-Israel harus mencakup jaminan guna mencegah serangan kembali terjadi.
Qatar menetapkan 'persona non grata' bagi atase militer dan keamanan di Kedutaan Besar Iran. Mereka diminta untuk meninggalkan Doha dalam waktu 24 jam.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa sistem dan struktur politik negaranya tetap kuat, meskipun terdapat beberapa pejabat hingga pemimpin tertinggi tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Dalam konflik dengan Amerika Serikat (AS)-Israel, Iran dilaporkan telah membatasi jalur Selat Hormuz bagi pihak-pihak yang dianggap musuh. Namun, kini Iran nampak mengizinkan lebih banyak kapal melewatai Jalur itu walaupun jumlahnya sedikit.