Bencana yang melanda Sumatra dalam beberapa hari terakhir, membuat pemerintah harus membuka seluruh opsi percepatan bantuan, termasuk airdrop. Sebelumnya, publik juga mengikuti kisah airdrop bantuan kemanusiaan Indonesia ke Gaza yang penuh risiko. Dua momentum ini membuat istilah airdrop semakin akrab, tetapi juga memunculkan banyak miskonsepsi.
KRI Teluk Gilimanuk-531, yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga pascabencana banjir, bertolak melanjutkan perjalanan menuju wilayah Lhokseumawe dan Kuala Idie, Aceh dari Dermaga Bandar Deli-Belawan, Medan pada Kamis (4/12).
KRI Sutedi Senoputra-378 tiba di Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe, Rabu (3/12), membawa bantuan logistik dalam jumlah besar untuk warga Aceh yang terdampak banjir.
Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemhan, Marsdya TNI Yusuf Jauhari, ke Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (2/12).
Pesawat angkut C-130J Super Hercules milik TNI AU menerjunkan 20 bundel bantuan menggunakan payung low cost low altitude (LCLA) untuk korban bencana di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12).
TNI Angkatan Udara (TNI AU) kembali mengerahkan Helikopter H225M Caracal untuk mengevakuasi seorang ibu hamil dari Desa Lokop, Kabupaten Aceh Timur menuju Bandara Malikulssaleh, Senin (1/12).
TNI AL mengerahkan KRI Sutedi Senaputra-378 untuk menyalurkan bantuan Presiden RI kepada warga terdampak bencana di Tamiang, Aceh. Kapal tiba di perairan setempat pada Selasa dini hari dan langsung menurunkan logistik untuk wilayah yang hingga kini masih terputus akses daratnya.
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melalui Kodam Iskandar Muda (IM) mengirimkan 1,5 ton bantuan logistik untuk warga terdampak bencana di Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur, menggunakan helikopter MI-17 V5 pada Selasa (2/12).