HANKAM

Koarmada II dan Bakamla Bahas Rencana Patroli Keamanan Wilayah Perairan Yurisdiksi

Pangkoarmada II Laksamana Muda Ariantyo Condrowibowo menerima kunjungan Direktur Kebijakan Bakamla RI Laksamana Pertama Ferry Supriady
Pangkoarmada II Laksamana Muda Ariantyo Condrowibowo menerima kunjungan Direktur Kebijakan Bakamla RI Laksamana Pertama Ferry Supriady di Surabaya, Rabu (17/7). (Foto: Dok. Dispen Koarmada II)

Jakarta, IDM – Pangkoarmada II Laksamana Muda Ariantyo Condrowibowo dan Direktur Kebijakan Bakamla RI Laksamana Pertama Ferry Supriady membahas kerja sama patroli perairan Indonesia.

Dalam pertemuan keduanya di Surabaya, Rabu (17/7), Koarmada II dan Bakamla RI berencana untuk melaksanakan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan yurisdiksi maritim Indonesia.

"Koarmada II akan selalu siap mendukung Bakamla RI dalam mempertahankan keamanan wilayah maritim Indonesia," ujar Ariantyo, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Jakarta, Kamis (18/7).

Baca Juga: Inspektur Kostrad Pimpin Upacara 17-an Bulan Juli

Ia juga mengungkapkan harapannya terhadap hubungan antara Koarmada II dan Bakamla RI selalu baik agar selalu dapat bersama mempertahankan keamanan perairan Indonesia.

"Saya berharap, ke depannya hubungan antara Bakamla RI dengan Koarmada II akan selalu baik, sehingga setiap rencana untuk mempertahankan keamanan wilayah maritim Indonesia akan terlaksana dengan lancar," ungkap Ariantyo.

Sebelumnya, TNI AL dan Bakamla sempat tergabung dalam Operasi Patroli Bersama 2024 yang melibatkan beberapa instansi yang berlangsung selama 100 hari, yakni dari Maret-Juni.

Beberapa daerah perairan yang menjadi titik patroli, pantai utara dan barat Aceh, Selat Malaka, Selat Singapura, pantai timur Kalimantan Utara, Laut Natuna Utara, Selat Sunda, Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Aru dan Laut Arafuru serta wilayah-wilayah tertentu yang berpotensi terdapat dinamika ancaman sewaktu-waktu.

Baca Juga: Rimpac 2024: Marinir Indonesia dan 2 Negara Pelatihan Penanggulangan Bahaya Nubika

Salah satu hasil operasi, yaitu tertangkapnya kapal dan anak buah kapal (ABK) berbendera Liberia yang diduga tidak memiliki dokumen lengkap. Hal ini diungkapkan oleh Pangkoarmada RI Laksamana Madya Denih Hendrata dalam seminar Indonesia Ocean Justice Initiative di Jakarta, Selasa (30/4) lalu.

"KRI Lepu-861 menangkap MV Sakura dengan ABK warga negara Thailand dan Myanmar, diduga tidak memiliki dokumen dan berlayar di perairan timur Pulau Buru, Kepulauan Riau," kata Denih. Namun, ia tidak menjelaskan waktu penangkapan dan proses hukum yang dikenakan terhadap kapal kargo itu.

Kendati demikian, Denih menegaskan keamanan laut merupakan tanggung jawab semua, sehingga TNI AL, termasuk armada kapal yang selalu siap untuk terlibat dalam patroli bersama yang digelar rutin sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Keamanan, Keselamatan, dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan Indonesia dan di Wilayah Yurisdiksi Indonesia. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.