Tolak Rencana Relokasi Warga Gaza, PBB: Pembersihan Etnis

Jakarta, IDM – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menolak proposal relokasi warga Palestina dari Gaza yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, karena merupakan bentuk pembersihan etnis.
"Dalam mencari solusi, kita tidak boleh memperburuk masalah. Sangat penting untuk tetap setia pada dasar hukum internasional. Sangat penting untuk menghindari segala bentuk pembersihan etnis," kata Guterres dalam pertemuan komite PBB melansir Un.org, Kamis (6/2).
Baca Juga: Arab Saudi Tolak Rencana Trump Ambil Alih Gaza
Dengan demikian, ia menyerukan agar Israel-Hamas bersama para mediator yakni AS, Qatar dan Mesir segera mendiskusikan tahap kedua gencatan senjata. Menurutnya, satu-satunya solusi untuk stabilitas di Timur Tengah adalah mewujudkan Negara Palestina yang merdeka dari pendudukan Israel.
Baca Juga: Presiden AS Ingin Ambil Alih Jalur Gaza
“Setiap perdamaian yang langgeng akan membutuhkan kemajuan yang nyata, tidak dapat diubah, dan permanen menuju solusi dua negara, diakhirinya pendudukan, dan pembentukan Negara Palestina yang merdeka, dengan Gaza sebagai bagian integralnya,” katanya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































